Kamis, 27 Desember 2018

Khutbah Jum’at: Tiga Ciri Orang yang Dicintai Allah


   

Khutbah Pertama:

الحمد لله الذي أصلحَ الضمائرَ، ونقّى السرائرَ، فهدى القلبَ الحائرَ إلى طريقِ أولي البصائرِ، وأشهدُ أَنْ لا إلهَ إلا اللهُ وحدَه لا شريكَ له، وأشهدُ أن سيِّدَنا ونبينا محمداً عبدُ اللهِ ورسولُه، أنقى العالمينَ سريرةً وأزكاهم سيرةً، (وعلى آله وصحبِه ومَنْ سارَ على هديهِ إلى يومِ الدينِ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah
Marilah kita meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ta’ala. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dengan senantiasa mengingat Allah dalam banyak kesempatan.

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah

Di dalam sebuah hadits yang shahih diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ

“Siapa yang memusuhi wali-Ku maka telah Aku umumkan perang terhadapnya. Tidak ada taqarrubnya seorang hamba kepada-Ku yang lebih Aku cintai kecuali beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan hamba-Ku yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan nawafil (perkara-perkara sunnah diluar yang fardhu) maka Aku akan mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, tangannya yang digunakannya untuk memukul dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepadaku niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta perlindungan dari-Ku niscaya akan Aku lindungi.” (Riwayat Bukhari).

Hadits ini menunjukkan kecintaan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Lantas bagaimana Allah mencintai hamba-Nya? Adakalanya, seseorang sering melakukan kemaksiatan, namun rezekinya lapang. Ia lalu beranggapan bahwa Allah tidak murka kepadanya, Allah tidak marah kepadanya. Allah masih mencintainya karena Allah masih melapangkan rezekinya.

Al-Hakim dalam Mustadraknya yang disetujui oleh Imam Adz-dzahabi akan kesahihannya, menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالىَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْآخِرَة

“Sesungguhnya Allah ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akhirat”.
Orang seperti itu mirip dengan orang kafir yang Allah sebut dalam surat Ar-Rum:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar-Rum: 7)

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah

Lantas apa ciri-ciri orang yang dicintai Allah? Pertama, dia dibimbing oleh Allah. Ketika Allah mencintai seorang hamba, maka hamba tersebut akan berada dalam tuntunan Allah Ta’ala. Allah Arahkan dia dalam kebaikan. Allah tidak ridho langkahnya menuju hal yang dibenci Allah. Allah tidak Ridho matanya melihat apa yang dibenci oleh Allah. Allah tidak Ridha pendengarannya mendengar apa yang dibenci Allah ta’ala. Apakah artinya dia maksum?

Dia tidak maksum. Dosa adalah sebuah keniscayaan, tetapi orang yang dicintai oleh Allah ketika melakukan perbuatan dosa, dengan tuntunan Allah yang baik, kepadanya diarahkan kepada kebaikan, maka dia dipercepat. Dia akan dibimbing oleh Allah untuk mudah sadar dan kembali kepada-Nya dengan bertobat.

BACA JUGA  Aksi Bela Muslim Uighur Serentak di Indonesia, dari Aceh Hingga Makassar

Lihatlah Bagaimana Allah ta’ala menjaga sahabat Ma’iz radiallahu anhu, sahabat yang dia datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia mengatakan, “Ya Rasulullah sucikan aku!” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menanyakan kepada para sahabat apakah sahabat Maiz sudah gila? Para sahabat mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah! Sesungguhnya dia dalam keadaan waras.”

Ma’iz disuruh pulang, namun hari berikutnya datang kembali kepada Rasulullah seraya mengatakan “Ya Rasulullah, sucikan aku.” Ia berkata begitu karena telah melakukan perbuatan zina. Rasulullah masih belum yakin dan memastikan apakah ia berbicara secara sadar.

Setelah tiga kali datang dan dipastikan, maka Ma’iz dihukum rajam. Setelah kematiannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لقد تاب توبة لو قسمت بين أمة لوسعتهم

“Maiz betul-betul telah bertaubat yang sempurna. Seandainya taubat Maiz dapat dibagi-bagikan di tengah-tengah ummat niscaya mencukupi buat mereka”.

Jadi, ciri pertama adalah dibimbing oleh Allah pada kebaikan. Ketika berbuat dosa, ia tidak kebablasan, tetapi dibimbing untuk sadar dan bertobat kepada-Nya.

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah 

Kemudian ciri yang kedua dari orang yang dicintai Allah ta’ala adalah Allah Ta’ala akan mengumpulkannya dengan orang yang mencintai dirinya karena Allah dan dia mencintai mereka karena Allah Ta’ala

Cinta karena Allah Ta’ala adalah faktor yang menyebabkan kecintaan Allah kepada seseorang. Oleh karena itu hati yang dipadu cinta bersama saudaranya karena Allah Ta’ala, akan mudah melekat. Seiring dengan berjalannya waktu dia akan tetap melekat. berbeda dengan kecintaan yang dibangun bukan atas dasar Allah ta’ala. Oleh karena itu dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh imam muslim Rasulullah bersabda:

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Ikatan iman yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan antipati karena Allah, serta cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Ath-Thabarani)

Contoh dalam masalah ini adalah Saad bin Muadz Radiallahu anhu. Ibnu Al Jauzi mengisahkan ketika Saad bin Muadz sedang menderita sakit, maka beliau menangis karena melihat banyak temannya yang dekat dengan dirinya tidak menjenguk, sehingga kemudian dia bertanya kepada pembantunya, “Ada apa dengan teman-temanku ini? kenapa mereka tidak menjengukku?”

Maka pembantunya diminta untuk mencari sebabnya. Kemudian diketahui bahwa mereka tidak menjenguk Saad bin Muadz Karena mereka malu akibat memiliki hutang kepadanya. Maka Saad bin Muadz mengatakan, “Sungguh dunia telah memisahkan antara diriku dan para sahabatku yang membangun cinta karena Allah Ta’ala.”

Saat kemudian memerintahkan pembantunya untuk mengumpulkan kantong sebanyak orang yang berhutang kepadanya, kemudian kantong itu diisi dinar dan dirham. Kantong-kantong itu kemudian dibagikan kepada orang yang berhutang kepadanya dan dia mengatakan semua utang mereka bebas karena Allah Ta’ala.

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah

Kecintaan karena Allah Ta’ala tidak akan pudar dan sesungguhnya kecintaan kepada Allah Ta’ala akan menyebabkan kecintaan dari Allah Azza wa Jalla. Kemudian ciri berikutnya di antara tanda cinta Allah kepada hamba, yaitu diberi ujian oleh Allah.

Jangan memandang ujian sebagai hal yang negatif, karena ada di antara ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya itu baik untuk dirinya. Ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya merupakan bagian dari cara Allah menunjukkan rasa cintanya.

Oleh karena itu Ibnu Qayyim menyebutkan sesungguhnya dari sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah cinta dan cemburu. Allah cemburu jika hambanya sibuk jangan dunia sehingga fokusnya hanya pada dunia saja, dan lupa kepada Allah ta’ala. Kecemburuan Allah ini ditunjukkan dengan Allah memberikan ujian kepada-Nya, agar dia tahu ke mana dia pulang.

Dalam hal ini, para Nabi adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala karena mereka diberikan banyak ujian oleh Allah ta’ala. Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah menyatakan kepada para sahabat bahwa beliau adalah orang yang paling besar ujiannya di antara mereka.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Kedua:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Jamaah sidang Jum’at rahimakumullah

Di khutbah kedua ini, marilah kita berdoa kepada Allah, agar selalu diberi kesadaran atas setiap dosa, sehingga kita menjadi orang yang bersegera untuk bertobat kepada-Nya. Semoga kita didekatkan dengan orang-orang yang saleh dan berteman dengan mereka, sehingga kita kelak dibangkitkan bersama mereka. Dan semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk sabar menghadapi setiap ujian, sehingga kita tetap di jalan-Nya dan menjadi orang-orang yang dicintai-Nya.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعاً مَرْحُوْماً، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقاً مَعْصُوْماً، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْماً.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَاناً صَادِقاً ذَاكِراً، وَقَلْباً خَاشِعاً مُنِيْباً، وَعَمَلاً صَالِحاً زَاكِياً، وَعِلْماً نَافِعاً رَافِعاً، وَإِيْمَاناً رَاسِخاً ثَابِتاً، وَيَقِيْناً صَادِقاً خَالِصاً، وَرِزْقاً حَلاَلاً طَيِّباً وَاسِعاً، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجمع كلمتهم عَلَى الحق، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظالمين، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعَبادك أجمعين.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ.
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ :
(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ))

Rabu, 26 Desember 2018

TUJUAN SILATUROHMI

3 Manfaat Silaturahmi yang Wajib Diketahui Setiap Muslim

Menjalin hubungan baik dengan sesama manusia merupakan salah satu tanda ketakwaan seorang hamba kepada Tuhan-Nya.

Allah bahkan menjanjikan keberkahan hidup bagi hamba-Nya yang selalu menjaga tali silaturahmi dengan sesamanya, khususnya dengan orang tua dan kerabat.

Keberkahan hidup yang dilimpahkan Allah tidak hanya dalam hal rezeki, namun juga keberkahan dalam usia dan hubungan baik yang penuh kasih dengan para kerabat dan anggota keluarga.

Di samping itu, tentunya masih banyak hikmah dan manfaat silaturahmi yang dapat kita petik. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak ulasan berikut.

Allah Swt. pun menjanjikan kemudahan dan pahala bagi siapa saja yang mampu memperpanjang tali silaturahmi dan memudahkan urusan saudaranya



Silaturahmi Mampu Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt.

Menyambung tali silaturahmi merupakan salah satu bentuk kecintaan dan ketakwaan seorang hamba.

Hal tersebut dibuktikan dengan sabda Rasulullah: “Allah ‘azza wa jalla berfirman: Aku adalah Ar-Rahman.

Aku menciptakan rahim dan Aku mengambilnya dari nama-Ku. Siapa yang menyambungnya, niscaya Aku akan menjaga hak-Nya.

Dan siapa yang memutusnya, niscaya Aku akan memutus darinya.” (Hadis Riwayat Ahmad).

Dari hadis tersebut jelas bahwa Allah Swt. memerintahkan setiap hamba-Nya agar selalu menjaga keutuhan antar sesamanya.

Allah juga menjanjikan pahala bagi siapa saja yang mampu menjaganya dan Dia juga tidak segan memberikan peringatan bagi mereka yang memutus keutuhan tali silaturahmi.

Silaturahmi sebagai tanda keimanan juga diungkapkan melalui sabda Rasulullah: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya.

Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi.”(Hadis Riwayat Abu Hurairah)

silahturahmi mudik lebaran

Silaturahmi Mampu Memperluas Rezeki Seseorang

Silaturahmi mempermudah kita untuk membantu kerabat atau anggota keluarga jika suatu saat ada salah satu dari mereka yang membutuhkan bantuan.

Membantu keluarga yang sedang kesulitan dapat kita anggap sebagai sedekah. Allah Swt. pun menjanjikan kemudahan dan pahala bagi siapa saja yang mampu memperpanjang tali silaturahmi dan memudahkan urusan saudaranya.

Janji Allah tersebut tertuang dalam sabda r yang diriwayatkan Abu Hurairah: “Siapa yang suka dilapangkan rezekinya  dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung tali silaturahmi.”(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

Selain itu, setiap muslim yang membantu urusan keluarganya tidak hanya mendapatkan pahala sedekah, namun Allah pun akan melimpahkan pahala silaturahmi kepadanya.

Bahkan, bersedekah kepada anggota keluarga lebih diutamakan dibanding bersedekah untuk fakir miskin, sebagaimana diungkapkan dalam sabda Rasulullah: “Sedekah terhadap orang miskin adalah sedekah dan terhadap keluarga sendiri mendapat dua pahala: sedekah dan silaturahmi.” (Hadis Riwayat Tirmidzi)

camel and desert

Silaturahmi Dapat Menjadi Kunci Masuk Surga

Allah Swt. menjanjikan pahala dan keberkahan bagi setiap hamba-Nya yang senantiasa menjaga tali silaturahmi. Janji Allah tersebut salah satunya adalah mendekatkan surga kepada hamba-Nya yang mampu menjaga silaturahmi dengan sesamanya, sebagaimana tertuang dalam hadis berikut:

“Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.”(Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)

Balasan bagi siapa saja yang mampu menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba adalah ia didekatkan kepada surga dan dijauhkan dari panasnya api neraka.

Silaturahmi tidak hanya memberikan keberkahan dan kebahagiaan bagi pelakunya. Para kerabat dan keluarga yang dikunjungi pun tidak luput dari rasa bahagia ketika mendapati bahwa keluarganya masih peduli dan memegang teguh rasa persaudaraan.

Sudah seharusnya kita sebagai seorang muslim wajib menjalankan perintah Allah untuk selalu menjaga dan memperpanjang tali silaturahmi dengan sesama.

Selain dapat merasakan manfaat silaturahmi yang akan menambah amal baik dan pahala, kita juga dapat meringankan beban anggota keluarga dengan bersedekah.

Berbagi Kebaikan kepada Temanmu:

www.facebook.com

Jumat, 14 Desember 2018

Mulutmu Harimaumu,maka Hindari Bicara Buruk (dari Hadist)



Ada Beberapa Hadist yang identik dengan judul tulisan ini. Mau tahu…? Yuk disimak. Karena ini pesan Nabi yang diriwayatkan oleh para sahabat, alangkah afdolnya bila bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan kita.

1. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang baik-baik atau diam. (HR. Bukhari)

2. Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga. (HR. Bukhari)

3. Barangsiapa akhir ucapannya "Laa ilaaha illallah" 'Tiada Tuhan selain Allah' niscaya dia masuk surga.( HR. Abu Dawud)

4. Sesungguhnya di antara ungkapan kata dan keterangan adalah sihir. (HR. Bukhari)

5. Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam. (HR. Ahmad). Bicara di saat emosi atau marah dapat menyesatkan.

6. Diam (tidak bicara) adalah suatu kebijaksanaan dan sedikit orang yang melakukannya. (HR. Ibnu Hibban)

7. Sesungguhnya Allah melarang kamu banyak omong, yang diomongkan, dan menyia-nyiakan harta serta banyak bertanya. (HR. Asysyihaab)

8. Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan untuk dia. (HR. Ad-Dailami)

9. Barangsiapa banyak bicara maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salah maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya maka api neraka lebih utama baginya. (HR. Ath-Thabrani)

10. Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

11. Berhati-hatilah dalam memuji (menyanjung-nyanjung), sesungguhnya itu adalah penyembelihan. (HR. Bukhari)

12. Seorang memuji-muji kawannya di hadapan Nabi Saw, lalu beliau berkata kepadanya, "Waspadalah kamu, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan berulang-ulang)". (HR. Ahmad)

13. Taburkanlah pasir ke wajah orang-orang yang suka memuji dan menyanjung-nyanjung.(HR. Muslim)

14. Tahukah kamu apa ghibah itu? Para sahabat menjawab, "Allah dan rasulNya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Menyebut-nyebut sesuatu tentang saudaramu hal-hal yang dia tidak sukai."(HR. Muslim)

15. Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji atau berkata busuk. (HR. Bukhari dan Al Hakim)

16. Semua umatku diampuni kecuali yang berbuat (keji) terang-terangan yaitu yang melakukannya pada malam hari lalu ditutup-tutupi oleh Allah, tetapi esok paginya dia membeberkan sendiri dengan berkata, "Hai Fulan, tadi malam aku berbuat begini...begini." Dia membuka tabir yang telah disekat oleh Allah Azza wajalla. (Mutafaq'alaih)

17. Yang paling aku takutkan bagi umatku adalah orang munafik yang pandai bersilat lidah. (HR. Abu Ya'la)

Begitu banyak hadist yang mengingatkan untuk bisa menjaga mulut dan lidah agar tidak keseleo, salah ucap atau pun. berpikir dahulu sebelum melontarkan ucapan.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 13 Desember 2018

KHUTBAH TAHUN BARU MASEHI

GUDANG GUDANG

GUDANG NASKAH KHUTBAH, PIDATO, NASYID, FILM ISLAM,

 Beranda ▼

KHUTBAH TAHUN BARU MASEHI




إِنَّ الحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَعينُهُ وَنَسْتَهْديهِ وَنَشْكُرُهُ، وَنَعوذُ بِاللهِ مِنْ شُرورِ أَنْفُسِنا وَمِنْ سَيِّئاتِ أَعْمالِنا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ وَلا مَثيلَ ولا شَبِيهَ وَلا ضِدَّ وَلا نِدَّ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا وَحَبِيبَنا وَعَظِيمَنا وَقائِدَنا وَقُرَّةَ أَعْيُنِنا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسولُهُ وَصَفِيُّهُ وَحَبِيبُهُ مَنْ بَعَثَهُ اللهُ رَحْمَةً لِلْعالَمينَ هادِيًا وَمُبَشِّرًا وَنَذيرًا 

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

أَمَّا بَعْدُ؛ مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ – أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قال الله تعالى اعوذ بالله من الشيطان الرجيم – يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. 

Maasyirol Muslimin Rohimakumulloh

                                                                    

Marilah kita tingkatkan taqwa kita kepada Alloh. SWT. Dengan menjalankan perintah-perintahnya, dan menjauhi larangan-larangannya, baik dalam keadaan senang atau susah, mudah maupun sulit, sendirian ataupun ditengah orang banyak.

Karena taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menjalani kehidupan didunia maupun di akhirat.

Maasyirol Muslimin Rohimakumulloh

Bagi orang yang diberikan bashiroh (pemahaman mendalam) terhadap Keadaan agama Alloh sekarang ini, dia akan mengetahui dengan jelas upaya keras yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menghapus, mengaburkan  dan memadamkan cahaya kebenaran islam

Dengan melalui berbagai cara dan sarana yang memungkinkan, musuh-musuh Islam bekerja keras dalam menebarkan syubhat dan keraguan terhadap kebenaran islam sehingga banyak orang sulit melihat mana yang benar dan mana yang salah, mana yang haq dan mana yang bathil

Citra Islam sebagai agama pembawa pesan-pesan ilahiyah yang agung mereka sembunyikan dari media masa, sementara kelakuan buruk segelintir orang islam mereka sebarkan siang malam, tujuannya agar umat islam malu menampakkan islamnya, agar orang islam tidak punya izzah lagi menjadikan islam sebagai aturan hidupnya. Semua itu dilakukan musuh-musuh islam tujuan akhirnya adalah menjadikan orang islam menjadi kafir seperti mereka. 

firman Allah Ta'ala.

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

‎"Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat ‎mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, ‎karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata ‎bagi mereka kebenaran" [Al-Baqarah : 109]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ‎

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang ‎yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang ‎‎(kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi" [Ali-‎Imran : 149] 

‎Akan tetapi meskipun demikian, Allah Ta'ala telah berjanji untuk ‎mejaga dienNya dan kitabNya Dengan munculnya orang 2 yg gigih ‎mempertahankan agama Alloh ini dari serangan2 musuh islam

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah memberitakan bahwa ‎akan selalu muncul suatu golongan dari umatnya yang berjalan di ‎atas al-haq, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan ‎mereka ataupun menentang mereka hingga terjadi hari Kiamat. ‎

Semoga Alloh menjadikan kita dan saudara-saudara kita kaum ‎Muslimin termasuk dari golongan tersebut, golongan yang senantiasa tegak dan berada digaris depan dalam menjaga agama Alloh.

Dari serangan orang-orang kafir yang hendak menghancurkan islam dan kaum muslimin

Maasyirol Muslimin Rohimakumulloh

Beberapa hari lagi akan datang pergantian tahun dari 2018-2019. 

Banyak kaum muslimin selama ini ikut merayakan hari natal dan tahun baru karena mereka banyak yang belum tahu sejarah dan hukum merayakan / menyambut tahun baru

Maka melalui khutbah ini kami sampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan hari natal dan tahun baru

Bahwa merayakan tahun baru masehi adalah bukan tradisi dari ajaran Islam.

Meskipun jutaan atau miliaran umat Islam di dunia ini merayakan tahun baru masehi dengan sukacita dan lupa diri larut dalam gemerlap pesta kembang api atau melibatkan diri dalam hiburan berbalut maksiat tetap aja nggak lantas menjadikan perayaan jadi boleh atau halal. 

Sebab, ukurannya bukanlah banyak atau sedikitnya yang melakukan, tapi patokannya kepada syariat. Kalau syariat mengatakan haram, maka tetap haram meskipun banyak orang, dan pemerintah memperbolehkan

Maasyirol Muslimin Rohimakumulloh

Tahun baru masehi itu sebenarnya berhubungan dengan keyakinan agama Nasrani , orang pertama yang membuat penanggalan kalender adalah seorang kaisar Romawi yang terkenal bernama Gaisus Julius Caesar. 

Itu dibuat pada tahun 45 SM jika mengunakan standar tahun yang dihitung mundur dari kelahiran Yesus Kristus.

Tapi pada perkembangannya, ada seorang pendeta Nasrani yang bernama Dionisius yang kemudian memanfaatkan penemuan kalender dari Julius Caesar ini untuk diadopsi sebagai penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus.

Pope (Paus) Gregory III kemudian memoles kalender yang sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemudian mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa, bahkan kini di seluruh negara di dunia dan berlaku umum bagi siapa saja. 

Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Nasrani. demikian keterangan dalam kamus Encarta.

Maasyirol Muslimin Rohimakumulloh

Di jaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus. 

Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” sepaket dengan Natal. 

Itulah sebabnya mengapa kalo ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year,

Nah, jadi sangat jelas bahwa apa yang ada saat ini, merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin. Tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani.

Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman Allah Swt.: ”

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ

“Dan orang-orang yang tidak memberikan perasaksian palsu” (QS al-Furqaan [25]: 72)

Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. 

Ulama-ulama Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.

Itu artinya, kalo sampe seorang muslim merayakan tahun baru masehi berarti melakukan persaksian palsu terhadap hari-hari besar orang kafir.  Naudzubillahi min dzalik.

 

Maasyirol Muslimin Rohimakumulloh

Bagaimana hukum merayakan / ikut merayakan tahun baru masehi…hukumnya adalah haram dengan alas an sbb

a. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Ibadah Orang Kafir

Bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya.

Sejak masuknya ajaran agama Nasrani ke eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) masuk juga ke dalam ajaran itu. 

Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal yang dipercaya secara salah oleh bangsa Eropa sebagai hari lahir nabi Isa.

Walhasil, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar agama kafir. Maka hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam.

b. Perayaan Malam Tahun Baru Menyerupai Orang Kafir

Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

من تشبه بقوم فهو منهم

Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka. Artinya hadis ini bahwa memakai atribut-atribut khas orang2 kafir adalah haram

c. Perayaan Malam Tahun Baru Penuh Maksiat

Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hura-hura. 

Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia.

Maka mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.

d. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Bidah

Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah syariat yang lengkap dan sudah tuntas. Tidak ada lagi yang tertinggal.

Sedangkan fenomena sebagian umat Islam yang mengadakan perayaan malam tahun baru masehi di masjid-masijd dengan melakukan shalat malam berjamaah, tanpa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru, adalah sebuah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, para shahabat dan salafus shalih.

Maka hukumnya bid’ah bila khusus untuk even malam tahun baru digelar ibadah ritual tertentu, seperti qiyamullail, doa bersama, istighatsah, renungan malam, tafakkur alam, atau ibadah mahdhah lainnya. Karena tidak ada landasan syar’inya.

Maasyirol Muslimin Rohimakumulloh

Ummat Islam tidak dapat dibenarkan (haram) mengikuti peringatan hari Natal, atau ikut serta dalam pelaksanaannya  

Semoga Allah SWT, senantiasa memelihara keimanan kita dan memberikan taufiq dan hidayahNya kepada kita bersama.

Amien.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذينَ قالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَ قالَ الْمَسيحُ يا بَني‏ إِسْرائيلَ اعْبُدُوا اللهَ رَبِّي وَ رَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَ مَأْواهُ النَّارُ وَ ما لِلظَّالِمينَ مِنْ أَنْصارٍ (المائدة 72 و 73 )

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah al-Masih putra Maryam", padahal al-Masih (sendiri) berkata, "Hai Bani Isra'il, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. 

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun."

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو السميع العليم .


Minggu, 09 Desember 2018

HATI HATI DENGAN ORANG TERANIAYA


Bacaan Doa Orang Teraniaya Dalam Al Qur’an dan Dalilnya

Oleh : Ustadz Yachya Yusliha

Aniaya atau dalam agama Islam biasa disebut dengan “zalim” yang bermakna “celaka” adalah suatu perbuatan yang tidak terpuji dan sangat dimurkai Allah SWT. Perbuatan zalim secara istilah dapat diartikan sebagai berbuat caniaya atau mencelakakan orang lain dengan maksud dan cara yang keluar dari ajaran syariat Islam. (baca juga: 

Doa Mustajab untuk Menghadapi UjianDzikir Pembuka Rezeki)

Zalim dapat juga didefinisikan sebagai perbuatan terlarang yang tidak sesuai dengan tempatnya. Jadi, zalim atau “menzalimi” baik orang lain maupun diri sendiri dengan tujuan apapun, tidak dibenarkan dalam Islam.

Berbagai macam perbuatan yang dapat dikategorikan dalam tindakan zalim akan sangat banyak jika diuraikan. Namun, sebagian dapat dicontohkan seperti memelihara penyakit hati

Hal-hal tersebut masuk dalam perbuatan zalim yang dilakukan pada diri sendiri dan orang terdekat. Tentunya hal tersebut harus dihindari karena dalam Islam, doa bagi orang yang teraniaya atau terzalimi adalah salah satu doa yang dijabah oleh Allah SWT. Subhanallah, begitu Maha Adil Allah atas kuasa-Nya.

Pengertian Zalim

Zalim atau aniaya, bagaimanapun bentuk dan tujuannya sangat dilarang oleh Allah SWT. Bahkan Allah menempatkan perbuatan tersebut (zalim) ke dalam dosa besar yang akan mendapat balasan pedih di kekalnya akhirat.

Hal tersebut tercantum dalam firman Allah SWT yang berbunyi,

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya dosa besar itu atas orang-orang yang telah berbuat zalim kepada manusia dan telah melampaui batas di muka bumi tanpa hak.

Mereka akan mendapat azab yang pedih”. (QS. Asy-Syura :42)

Beberapa tindakan zalim baik itu kepada diri sendiri atau orang lain tetap tidak dibenarkan oleh Islam. Contoh tindakan yang dapat dikategorikan sebagai perbuatan zalim diantaranya adalah sebagai berikut:

Seorang Ayah yang menafkahi keluarganya dengan uang haram (uang yang didapat dari menipu, korupsi, dan mencuri).

Seorang Ibu yang lalai akan kewajibannya dan membiarkan anak serta suaminya tanpa kasih sayang dan perhatian.

Seseorang yang suka membicarakan keburukan tetangganya.Seseorang yang suka mengumbar aib keluarga maupun kerabatnya.Fitnah, mengadu domba, sombong, berbohong, dan sebagainya.

Perbuatan-perbuatan tersebut akan sangat merugikan kita diakhirat jika dilakukan. Allah SWT senantiasa mengingatkan pada firmanNya yang berbunyi,

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. Al Zaljalah: 7-8)

Dari beberapa ayat yang dipaparkan tersebut sangat jelas bahwa agama kita mengajarkan untuk menghindari segala perbuatan keji yang dapat mendatangkan siksa bagi kita di akhirat nantinya. Bahkan Allah SWT menjanjikan bahwa sekecil apapun hal yang dilakukan umat manusia di bumi pasti akan mendapat balasan yang setimpal.

Oleh karena itu, sebagai umat muslim hendaklah semakin bertaqwa serta menjauhkan diri dari perbuatan yang demikian untuk mencapai keridhoan-Nya.

Larangan Berbuat Zalim

Allah SWT telah menuliskan dengan sangat jelas pada firman-Nya agar sebagai umat yang beriman tidak pernah melakukan perbuatan yang dilarang oleh-Nya serta mematuhi segala perintah-Nya. Allah selalu melihat dan mengawasi semua yang dilakukan manusia termasuk zalim sekecil apapun perbuatan tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Surat Ibrahim ayat 42-45 yang berbunyi,

وَلاَ تَحْسَبَنَّ اللّهَ غَافِلاً عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأَبْصَارُ مُهْطِعِينَ مُقْنِعِي رُءُوسِهِمْ لاَ يَرْتَدُّ إِلَيْهِمْ طَرْفُهُمْ وَأَفْئِدَتُهُمْ هَوَاءوَأَنذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُواْ رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُواْ أَقْسَمْتُم مِّن قَبْلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٍوَسَكَنتُمْ فِي مَسَـاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُواْ أَنفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الأَمْثَالَ

Dan janganlah sekali-kali kamu Wahai (Muhammad) mengira bahwa Allah lengah, lalai, terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepeda mereka sampai pada hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.

 

Mereka datang bergegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepalanya, sedangkan mata mereka tidak berkedip-kedip, hati mereka kosong. Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azhab kepada mereka, maka berkatalah orang yang zalim:”Ya Tuhan kami beri tangguhlah kepada kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan memenuhi seruan-Mu dan akan mengikuti Rasul-Mu.

 

(Dikatakan kepada mereka):” Bukankah kamu telah bersumpah dulu (di dunia), bahwa sekalipun kamu tidak akan binasa? Dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat kepada mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan”.


Dalam firman Allah tersebut terkandung makna bahwa Dia tidak pernah lupa apalagi lalai untuk memberikan balasan bagi orang yang berbuat zalim kepada sesamanya maupun dirinya sendiri. Telah digambarkan bahwasannya orang-orang yang zalim, kelak (di akhirat) akan datang tergesa memenuhi panggilan Allah SWT untuk meminta kembali di dunia agar mereka dapat berbuat baik.

Artikel Lainnya:

Puasa Sunah Idul AdhaIlmu Kalam dalam Islam

Namun, penyesalan semacam itu tidak ada gunanya bagi Allah SWT dan khususnya para umat muslim itu sendiri karena akhirat bersifat kekal serta penyesalan di alam sana tidak akan ada gunanya. Jadi, sebagai muslim yang mengaku taat pada perintah Allah SWT, hendaknya kita jauh dari perbuatan keji semacam itu.

Keutamaan Doa Orang Teraniaya dalam Al Qur’an

Bagi Allah SWT tiada yang tidak mungkin. Beliau Maha Kuasa dan Maha Segalanya. Janji Allah kepada orang-orang yang teraniaya atau terzalimi sangat indah. Bahkan dikatakan bahwa Allah akan dengan senang hati segera menjabah doa kaum yang teraniaya tanpa syarat apapun. Begitu kiranya yang diriwayatkan Rasulullah SAW dalam Hadist sebagai berikut,

“Takutlah kepada doa kaum yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”. (HR Bukhari)

Seperti yang tertera dalam firman Allah SWT, yang berbunyi

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai perbuatan buruk yang diucapkan secara terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS An Nisa:148).


Berikut Doa Orang Teraniaya Dan Terzalimi Dalam Al-Qur’an dapat dilihat dalam Surat An-Naml Ayat 62, yang berbunyi:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan, apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan, dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?. Apakah di samping Allah ada ilah (yang lain)?. Amat sedikitlah kamu mengingat-ingat(-Nya).” – (QS.27:62)


Dari keduanya dapat disimpulkan bahwa Allah SWT sangat tidak menyukai orang yang berbuat zalim. Bahkan menghalalkan kaum yang terzalimi saat mereka mengucapkan doa balasan kepada yang zalim kepada mereka. Dalam agama Islam, kiranya kita mengaku beriman maka penuhi iman itu dengan ketaqwaan. (baca juga: Tasawuf AkhlaqiPenyebab Doa Tidak Dikabulkan Allah SWT)

Meskipun saat kita nantinya akan menjadi orang yang terzalimi. Islam mengajarkan perbuatan baik untuk melawan zalim dan akan meruntuhkan segala dosa kita yaitu dengan cara memaafkan. Jadi, sebagai muslim yang baik perlu untuk kita mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah menghindari perbuatan zalim serta mengampuni mereka yang menzalimi.

 

Demikian artikel informatif mengenai doa orang yang teraniaya dalam Al Qur’an, semoga membawa manfaat bagi kita semua.

Jumat, 07 Desember 2018

Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan

Penulis

Ustadz Yachya Yusliha

 
Apa yang dimaksud dengan fitnah lebih kejam dari pembunuhan?

Sebagian orang ternyata salah memahami istilah Al-Qur’an “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”. Dinilai bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat adalah memfitnah orang, mengisukan yang tidak benar.

Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang. Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya).

Ayat yang membicarakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” adalah,

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 191)

Coba kita lihat makna fitnah dalam ayat apakah sama seperti yang dipahami oleh sebagian kita.

 

UIama tafsir terkemuka, Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah perbuatan syirik. Sehingga dikatakan bahwa syirik lebih besar dosanya dari pembunuhan.

Imam Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa asal makna dari fitnah adalah al-ibtila’ dan al-ikhtibar yaitu ujian atau cobaan. Sehingga maksud ayat kata Ibnu Jarir Ath-Thabari,

وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجع عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشد عليه وأضر من أن يقتل مقيما على دينه متمسكا عليه، محقا فيه

“Menguji seorang mukmin dalam agamanya sampai ia berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya.”

Ada riwayat dari Muhammad bin ‘Amr, telah menceritakan dari Abu ‘Ashim, telah menceritakan dari ‘Isa bin Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata mengenai ayat ‘fitnah lebih parah dari pembunuhan’, “Membuat seorang mukmin kembali menyembah berhala (murtad) lebih dahsyat bahayanya dibanding dengan membunuhnya.”

Qatadah juga menyatakan, “Syirik lebih dahsyat dari pembunuhan.” Ar-Rabi’ dan Adh-Dhahak mengungkapkan hal yang sama seperti Qatadah. Ibnu Zaid menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat adalah fitnah kekafiran (yaitu membuat orang kafir). (Tafsir Ath-Thabari, 2: 252-253)

Sehingga yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah syirik. Dan membuat orang terjerumus dalam kesyirikan lebih dahsyat dosanya dari membunuhnya.  Baca: Bahaya Syirik (1) dan Bahaya Syirik (2) 

Kita dapat simpulkan pula bahwa kata fitnah dalam bahasa kita ternyata berbeda maksudnya dengan kata fitnah dalam Al-Qur’an atau bahasa Arab yang maknanya lebih luas.

Moga kita semakin diberi tambahan ilmu dalam memahami Al-Qur’an.

 

Kamis, 06 Desember 2018

Khutbah Jumat Terbaru Fenomena Ummat di Akhir Zaman [Edisi 2018]



Materi Khutbah Jumat Terbaru 2018 [Fenomena Ummat di Akhir Zaman]

 Oleh: Ustadz Yachya Yusliha

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Marilah kita terus meningkatkan iman taqwa kita kepada Allah SWT. dengan selalu melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya, sekaligus kita syukuri ni’mat pemberianNya yang tiada terbatas dengan selalu mengucapkan “Alhamdulillah”.

Shalawt dan Taslim Kita persembahkan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad saw. Serta para sahabat keluarga dan ahli warisnya sekalian

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Kurang lebih lima belas abad yang silam, ketika dunia tengah tenggelam dalam kegelapan jahiliyah, ketika manusia terlena dengan dosa dan kemungkaran, secerca pengetahuan dan petunjuk kebenaran muncul dari cakrawala perbukitan “Bakkah”. Cahayanya menyebar ke Timur, Barat, Utara dan Selatan, sehingga mencapai keseluruh dunia. Hanya dalam waktu singkat, yakni selama 23 tahun, jalan yang ditunjukkan oleh cahaya tersebut telah dilalui oleh ummat manusia sehingga mereka mencapai kemuliaan sedemikian tingginya, suatu kemuliaan yang belum pernah dicapai sebelumnya. Cahaya tersebut menerangi ummat Islam dan menyadarkan mereka akan pentingnya mengikuti petunjuk kebenaran yang pada akhirnya akan membawa mereka kepada keselamatan. Dengan mengikuti petunjuk kebenaran dari cahaya tersebut, ummat Islam memperoleh keberhasilan demi keberhasilan dan mencapai puncak kemuliaan dalam sejarah. Selama beberapa abad lamanya ummat Islam memimpin dunia dengan penuh keagungan dan kekuatan, sehingga tidak ada kekuatan dimasa itu yang berani menantangnya. Ummat Islam adalah “superpawwer” dikala itu.

Sayang seribu sayang, kenyataan ini hanya tinggal cerita yang tidak bermakna. Kejayaan Islam dimasa lalu, hanya tinggal kenangan, tinggal dalam buku sejarah yang memenuhi perpustakaan Islam, hanya tinggal bacaan bagi pelajar dan mahasiswa, hanya dijadikan pengantar untuk naik tingkat atau lulus ujian.

Ummat Islam kini telah terpuruk ketingkat yang paling parah, lebih buruk dari masa jahiliyah. Betapa tidak, kalau dimasa jahiliyah orang-orang kafir menginjak-injak kebenaran, kini ummat Islam sendiri yang telah menghina kebenaran. Kini ummat Islam semakin memilukan.

Islam bukan saja dihancurkan oleh kaum kuffar, tetapi juga sedang dihancurkan oleh ummat Islam itu sendiri. Dimana-mana hal-hal yang keji, kefasikan dan kejahatan telah meningkat dengan cepat, tidak ada lagi yang tersembunyi dihadapan kita. Sikap acuh tak acuh terhadap agama, menghina dan meremehkan, sudah menjadi kebiasaan umum pada zaman ini.

Sungguh…, zaman semakin menunjukkan tanda-tanda yang memprihatinkan. Ummat manusia sudah berada dipuncak kerusakan moral yang semakin parah. Ummat Islam yang Fenomena ummat di akhir zaman semestinya memberi contoh kepada umat yang lain, justru telah melakukan pelanggaran melampaui ambang batas.

Tanda-tanda akhir zaman semakin nampak, kriminal semakin meluas, penyalah gunaan narkoba semakin mewabah, konflik antar etnis semakin melebar, pembunuhan semakin sadis, zina semakin terang-terangan, sementara upaya penaggulangannya hampir tidak lagi manjur. Ibarat pengobatan, pasien bukan saja bertambah parah melainkan para “dokterpun telah tertular berbagai penyakit. Ancaman langit yang datang silih berganti hampir tidak lagi dihiraukan. Dimana-mana orang terus tidak perduli. Kriminal, konflik, perpecahan, demontrasi, zina, narkoba, banjir, tanah longsor, gempa bumi, badai tsunami, angin putting beliung, semuanya adalah ancaman.

Kini siaga satu langit sedang mengintip setiap kelengahan, tujuh puluh dua kejadian diakhir zaman yang disebut oleh para Ulama, sebagian besar sudah terjadi. Itu berarti kita tinggal menunggu malapetaka lebih besar yang akan datang menerjang semua orang.

Kalau para Pemimpin tidak segera menyatukan langkah antisipasi, terutama Pejabat dan Ulama tidak lagi mau bekerja sama mengatasi semua ini, maka ummat ini akan semakin jauh dan akan ramailah bumi ini dengan pelanggaran hukum, kekerasan dan sebagainya.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Sebenarnya Para Ulama mengatakan bahwa bencana itu hanya tinggal menunggu waktu, apabila manusia makin tidak perduli, maka akan datang bencana yang sangat mengerikan, bencana yang tidak seorangpun mengetahuinya. Allah SWT. telah menyatakan hal itu dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 16:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

 “Dan jika Kami hendak menghancurkan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orangorang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mena’ati Allah) tetapi mereka melakukan kefasikan di dalamnya, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”.

Kata “Kami hendak menghancurkan suatu negeri” adalah isyarat bahwa Allah yang menghancurkan karena kedurhakaan mereka, karena makshiat yang melampaui batas.

Di dalam Surat Al-Isra ayat 58 Allah Berfirman :

وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا ۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

 “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya) melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat, atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis dalam kitab (Lauhil mahfuzh)”. Al-Israa 58.

Inilah peringatan keras dari Allah kepada semua orang, kata “Kami hancurkan” dalam ayat diatas, bisa jadi lebih dahsyat dari Badai Tsunami Aceh. Bahkan disini ada dua ancaman besar: “Kami hancurkan atau Kami akan kirimkan adzab yang dahsyat. Kedua-duanya adalah ancaman untuk semua Negara, apalagi Indonesia yang telah lebih dahulu menerima Badai Tsunami Aceh.

Ingat…! Sebelum kiamat ada bencana besar, ada negeri yang akan dihancurkan, ada negeri yang akan ditenggelamkan. Awas peringatan keras dari langit..! Dan ancaman itu bisa jadi seperti kebinasaan ummat-umat terdahulu.

Kita semua tidak tahu, apakah sebelum kiamat yang disebutkan dalam ayat diatas, sebelum kiamat 100 tahun, atau 50 tahun atau 10 tahun. Wallahu A’lam hanya Allah yang Maha Tahu.

Namun bagi orang-orang yang beriman tentu tidak menunggu setelah terjadi baru percaya, setelah hancur baru menyesal, melainkan harus segera mempersiapkan diri mengatasi kemungkaran dengan menggiatkan dakwah dan do’a.

Para Ulama beri tahu bahwa kedurhakaan ummat hari ini adalah kumpulan dari kedurhakaan ummat-ummat terdahulu. Ini berarti ummat dizaman ini terancam kumpulan musibah yang menimpa kaum-kaum terdahulu.

Kita semua terancam dibenamkan kebumi, terancam dihempas badai, terancam dikirim batu kerikil dari langit, terancam tenggelam dan sebagainya, seperti yang dinyatakan Allah SWT dalam FirmanNya Surat Al-Ankabuut 40:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu kerikil, dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan kedalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”.

Kita garis bawahi “Kami siksa disebabkan dosanya” bukan gejolak alam, bukan hutan gundul, bukan gesekan lempengan bumi seperti yang dikatakan kebanyakan orang, tapi karena dosa, karena kemungkaran, karena kriminal, karena khamar, karena judi, karena shalat telah diabaikan, karena wanita bebas berkeliaran dengan pakaian setengah telanjang dan sebagainya.

Jadi solusinya hentikan kemungkaran, hentikan khamar, hentikan judi, hentikan zina, hentikan wanita setengah telanjang, hentikan hujat menghujat, hentikan demonstrasi, hentikan tuduh menuduh dan sebagainya.

Semua ancaman diatas telah disebut sejak 1400 tahun silam oleh Allah SWT. sama-sama adalah ancaman besar yang sudah dipersiapkan Allah untuk menerjang semua orang yang tidak perduli dengan keterpurukan moral yang melanda ummat dizaman ini.

Kaum Muslimin Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT

Ummat sedang sakit parah…, namun karena sakit itu tersembunyi dibagian dalam alias sakit ruhani, maka kebanyakan orang merasa tidak sedang sakit. Mereka merasa tidak melakukan dosa. Banyak orang yang lebih mengetahui dosa orang lain karena setiap hari disiarkan, setiap hari dibicarakan di publikasikan.

Berbahaya..! Ummat sedang digiring melakukan ghibah masal, ummat sedang beramairamai menonton perbuatan dosa, ummat sedang melakukan dosa besar, sehingga makin hari ummat semakin tidak menyadari kesalahannya. Masjid-masjid yang menjadi indikasi keta’atan ummat, semakin sepi pengunjung, sebaliknya tempat-tempat maksiat semakin banyak peminat.

Mari segera kita kembali kepada Allah dengan mengamalkan agama, mari segera kita da’wahkan pentingnya iman dan amal shaleh, mari kita ajak semua orang untuk memakmurkan masjid, mari kita saling mendoakan antara satu dengan lainnya, mari kita bersatu menumpas kebatilan yang semakin merajalela agar kita tidak dihukum dunia akhirat.

Semoga Allah memberi kita kekuatan lahir batin untuk mengamalkan ajaran agama dengan sempurna. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin……………….!

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Baca Juga Khutbah Jumat Lainnya:

Senin, 03 Desember 2018

Bolehkah Sholat Idul Fitri di Tanggal 2 Syawal?

 


Bolehkah Sholat Idul Fitri di Tanggal 2 Syawal?

Orbit | Salasa, 04/12/2018 05:28

Ilustrasi (Foto)

    

Reporter : Yachya yusliha

Syariat sholat Id dilaksanakan pada 1 Syawal pagi hari.

Dream - Mudik menjadi fenomena tersendiri ketika Lebaran. Jutaan orang berbondong-bondong pergi dari perantauan untuk kembali ke kampung halaman.

Beruntung bagi mereka yang bisa tiba di tempat tujuan sebelum Hari Raya. Tetapi, ada sebagian dari saudara kita mungkin masih berada di jalan.

Sehingga, mereka tidak bisa sholat Id tepat di tanggal 1 Syawal. Mereka mungkin baru bisa sholat Id keesokan harinya yaitu pada 2 Syawal.

Terkait masalah ini, apakah dibolehkan melaksanakan sholat Id pada 2 Syawal?

Dikutip dari bincangsyariah.com, Imam An Nawawi berpendapat, ada beberapa kondisi yang membuat seorang Muslim dibolehkan sholat Id pada 2 Syawal.

Kondisi pertama, yaitu tertinggal sholat Id karena lupa atau terhalang situasi tertentu yang tidak memungkinkan baginya sholat Id tepat waktu.

Bahkan halangan itu hilang ketika matahari terbenam, orang itu tetap tidak bisa melaksanakan sholat. Kondisi ini umum terjadi saat mudik.

Kondisi kedua, apabila hilal baru terlihat setelah matahari terbenam berdasarkan keterangan saksi dua atau tiga orang. Kondisi ini tentu tidak memungkinkan sholat Id, sehingga dibolehkan dikerjakan pada 2 Syawal.

Dalam hadis riwayat Abu Daud, Nasa'i, dan Ibnu Majah disebutkan demikian.

" Diriwayatkan dari Abu 'Umair bin Anas dari paman-pamannya yang juga sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa suatu rombongan datang kepada Nabi SAW, mereka bersaksi telah melihat hilal kemarin. Maka beliau memerintahkan mereka (masyarakat) untuk berbuka puasa, dan keesokan harinya, mereka berpagi-pagi menuju ke tempat sholat (untuk melaksanakan sholat hari raya)."

Pelaksanaan sholat Id pada 2 Syawal termasuk dalam kategori qadla'. Ibnu Qudamah menjelaskan tata cara pelaksanaan qadla sholat Id ada dua macam.

Cara pertama, mengganti sholat Id dengan sholat empat rakaat. Pandangan ini menyamakan sholat Id dengan sholat Jumat sebab keduanya memiliki khutbah.

Dasarnya adalah hadis dari Abdullah bin Mas'ud.

" Barang siapa meninggalkan sholat Id maka hendaklah sholat empat rakaat."

Tetapi, Syeikh Albari menyatakan hadis ini maqtu atau sanadnya terputus. dengan demikian hadis ini tidak bisa dijadikan dasar hukum.

Cara kedua, melaksanakan sholat Id seperti pada tanggal 1 Syawal, lengkap dengan tujuh takbir di rakaat pertama dan lima takbir di rakaat kedua. Pendapat ini dipegang mayoritas ulama.

Sementara bagi yang sholat Id sendiri, tidak ada khutbah. Sebab khutbah hanya bagi sholat Id berjemaah.

Selengkapnya...

 

Doa Sebelum Tidur dan Amalan Menjelang Tidur dari Rasulullah SAW

Doa Sebelum Tidur dan Amalan Menjelang Tidur dari Rasulullah SAW

Oleh : Yachya yusliha

Selain doa sebelum tidur, ada banyak dzikirdoa atau amalan menjelang tidur yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Semuanya memiliki faedah dan keistimewaan masing-masing. Yang kesemua faedahnya terangkum untuk kebaikan dunia dan akhiran kita.

Tidur adalah salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada kita. Ada banyak rahasia dalam tidur, di antaranya adalah mimpi. Dikatakan pula tidur adalah mati kecil (menyerupai mati), dll.

Ada lebih banyak sesuatu yang tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui dalam tidur. Oleh karenanya, Nabi mengajarkan tata cara tidur yang baik, dengan pendahuluan amalan, dzikir atau doa menjelang tidur yang diajarkan oleh beliau.

Doa Sebelum Tidur dan Bangun Tidur

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Ghozali juga disebutkan. Barangsiapa sebelum tidur membaca istighfar tiga kali, maka dosanya dari bangun tidur sampai menjelang tidur diampuni.

Doa Sebelum Tidur

بِسْمِكَ اللّهُمَّ اَحْيَا وَ بِسْمِكَ اَمُوْتُ

(BISMIKALLAAHUMMA AHYAA WABISMIKA AMUUT)

“Dengan menyebut Namamu Ya Allah Aku Hidup dan dengan menyebut Namamu Aku Mati”

Doa Bangun Tidur

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ اَحْيَانَا بَعْدَمَآ اَمَاتَنَا وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ

(ALHAMDULILLAAHILLADZII AHYAANAA BA’DAMAA AMAATANAA WA ILAIHINNUSYUUR)

“Segala puji bagi Allah Dzat yang menghidupkan kami setelah kami mati (tidur) dan kepadanyalah kami kembali”.

Amalan Menjelang Tidur


Ada banyak amalan menjelang tidur yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah senantiasa membimbing dan mengajarkan adab dan tata krama kepada umatnya tentang segala hal. Termasuk adab dan tata krama sebelum tidur. Berikut adalah di antaranya:

Dzikir Sebelum Tidur

Di antara bacaan dzikir sebelum tidur yang diajarkan Rasulullah adalah 4 amalan yang diwashiyatkan Rasulullah SAW kepada Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyah R.a.

Rasulullah saw pernah berkata kepada Aisyah “Janganlah engkau tidur sebelum mengerjakan empat hal: Pertama, menghatamkan al-Qur’an. Kedua, menjadikan para Nabi sebagai pemberi syafaat bagimu. Ketiga, meminta ridha dari semua kaum muslimin. Keempat, melaksanakan haji dan Umrah”.

Kemudian Aisyah menjawab “bagaimana aku bisa melakukan keempat hal tersebut?”

seraya tersenyum Rasulullah saw berkata “Apabila engkau membaca surat al-Ikhlas tiga kali, maka seakan-akan engkau telah menghatamkan al-Qur’an. Dan apabila engkau bershalawat kepadaku dan kepada semua Nabi-Nabi, maka engkau sama dengan menjadikan kami sebagai pemberi syafaatmu. Dan apabila engkau beristighfar untuk kaum muslimin, maka engkau telah menjadikan mereka ridha kepadamu. Dan terakhir apabila engkau membaca tasbih seolah engkau telah melaksanakan haji dan umrah.

Berwudhu

Selain amalan sebelum tidur di atas, sangat dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar sesuatu yang terjadi dalam tidur kita benar-benar baik.

Misalnya mimpi, mimpi dari hasil tidur yang tidak diawali dengan wudhu berbeda dengan mimpi yang diawali dengan wudhu. Mimpi yang diawali dari tidur dengan wudhu lebih bersih dari campur tangan syetan dibanding yang tidak berwudhu.

“Jika kamu mendatangi tempat tidurmu maka wudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu” (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710)


Jika ada pertanyaan “Bukankah ketika kita tidur nanti wudhunya batal?”

Iya memang. Karena niat kita wudhu bukan untuk Daimul Wudhu, tapi berwudhu untuk tidur. Seperti halnya kesunnahan berwudhu untuk belajar, dll.

Sholat Sunnah Witir Sebelum Tidur

Dianjurkan juga sebelum tidur untuk melaksanakan sholat witr. Minimal satu rakaat, standar tiga rakaat. Nabi SAW menganjurkan melaksanakan sholat witir ini sebelum tidur.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata:

أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَبِالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَبِصَلَاةِ الضُّحَى فَإِنَّهَا صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ

“Kekasihku Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mewasiatkan kepadaku untuk berpuasa tiga hari dari setiap bulan, shalat witir sebelum tidur, dan dari shalat Dhuha, maka sungguh itu adalah shalatnya awwabin (shalatnya orang-orang yang banyak taat kepada Allah).” (HR. Ahmad dan Ibnu Huzaimah. Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib).

Sekian dan semoga bermanfaat.

Bagikan ini: