Jumat, 18 Januari 2019

4 Sikap Manusia Menghadapi Musibah, Bagaimana Kita?

ADA empat kelompok manusia dalam mensikapi setiap musibah dan cobaan hidup di dunia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah di dalam kitabnya,‘Uddatus Shobirin wa Dzakhiratus Syakirin(Bekal orang-orang sabar dan Perbendaharaan orang-orang yang bersyukur). Keempat kelompok itu adalah;

Pertama; kelompok orang-orang yang lemah

Yaitu orang-orang yang selalu berkeluh kesah terhadap setiap keadaan. Dia selalu mengadu namun bukan kepada Allah tempat mengadu melainkan kepada sesama manusia. Ia selalu meratapi hari-hari bahkan tidak jarang ia bertindak diluar batas untuk melampiaskan amarah atas takdir buruk yang ia terima. Ia selalu mengeluh kepada semua orang. Padahal dengan banyak mengeluh bukannya orang akan simpati malah akan menjauh. Dan juga dengan banyak mengeluh persoalan bukannya kelar malah bertanmbah rumit.

Sikap ini adalah sikap orang-orang yang lemah imannya, lemah akalnya dan agamanya.

Kedua; kelompok orang-orang yang bersabar

Sabar atas musibah dengan cara menahan diri dari melakukan hal-hal yang mengundang amarah Allah Subhanahu Wata’ala. Menahan lisan dari berucap kata yang tidak disukai Allah. Mencegah perbuatan dari perkara yang dimurkai Allah.

Orang yang sabar dalam menghadapi musibah senantiasa berdoa agar Allah menyingkirkan dan meringankan musibah yang menimpanya dan berharap pahala yang ada padanya, di saat yang sama ia mengambil sebab dan upaya agar musibah itu berlalu darinya.

Dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Shuhaib berkata; Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR: Muslim)

Setiap mukmin akan selalu mendapat ujian. Dan Allah tidak akan memberi beban kecuali sesuai kemampuannya.

Dalam al-Qur’an, Allah berfirman:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا‌ۚ

“Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.” [QS. al-Baqarah: 286].

Ketiga; kelompok orang-orang yang ridho

Yaitu mereka yang berlapang dada ketika musibah menimpanya. Orang yang ridho atas musibah sangat menyadari bahwa semua yang terjadi atas kehendak Allah. Baginya, ketika ditimpa musibah seolah-olah dia tidak merasa mendapat musibah. Derajat ridho atas musibah tentu lebih tinggi tingkatannya dari sikap sabar.

Keempat; kelompok orang yang bersyukur

Aneh kedengarannya, ditimpa musibah kok malah bersyukur. Ditimpa musibah kok malah berterima kasih.  Ya memang demikian keadaannya kelompok keempat ini. Baginya musibah adalah sesuatu yang ‘mengasyikkan’. Dia seakan menikmati ‘memadu kasih’ dengan Tuhannya di saat tertimpa musibah yang bagaimanapun bentuknya.

Malah, kalau bisa dia berharap agar musibah itu tidak lekas hilang darinya. Yang menempati derajat ini adalah para nabi dan rasul, wali-wali Allah, orang-orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang mendalam seperti yang pernah saya tuliskan dalam kisah Abu Qilabah al Jarmi, seorang tabi’in yang diuji oleh Allah Subhanahu Wata’ala dengan penderitaan yang luar biasa, buntung kedua tangan dan kakinya, buta matanya, hampir tidak berfungsi pendengarannya, ditambah lagi kematian anak satu-satunya yang selalu merawatnya.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu sekalian memaklumkan; sungguh apabila kamu telah bersyukur, pasti akan Aku tambah nikmat kepadamu; tetapi apabila kamu kufur, adzab-Ku amatlah pedih” [QS. Ibrahim: 7]

Sahabat, kalau kita yang diuji oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan diberinya musibah, kira-kira masuk kelompok yang mana kita?

Apakah kita masuk  kelompok pertama? Na’udzubillah, berarti kita masuk kelompok orang yang imannya bermasalah.

Kelompok kedua? Ya, paling tidak kedalam kelompok inilah sikap kita; bersabar atas musibah. Ini adalah sikap wajib bagi seorang mukmin.

Ingatlan pesan al-Quran,  “Fa inna ma’al ‘ushri yusra, inna ma’al ‘ushri yusra.” (maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sungguh bersama kesulitan ada kemudahan) [QS. as-Syarh: 5 – 6].

Amin.*/Imron Mahmud

Selasa, 15 Januari 2019

Khutbah Jumat: 5 Hadits Membicarakan Dosa yang Dilaknat


Khutbah Jumat: 5 Hadits Membicarakan Dosa yang Dilaknat

HADITS MEMBICARAKAN DOSA YANG DILAKNATKHUTBAH JUMAT

Ada lima hadits penting yang dibicarakan pada khutbah Jumat kali ini yang di mana berisi dosa-dosa yang dikutuk atau dilaknat oleh Allah.

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Amma ba’du …

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …

Kita bersyukur kepada Allah atas berbagai macam nikmat yang telah Allah anugerahkan pada kita, nikmat harta, nikmat umur panjang, dan nikmat sehat, ini adalah semua nikmat yang wajib kita syukuri. Lebih-lebih lagi nikmat yang paling utama, Allah masih memberi nikmat iman dan Islam. Nikmat iman tentu lebih istimewa daripada nikmat kekayaan, karena iman inilah yang menjadi jaminan kita bahagia.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada suri tauladan kita yang menjadi teladan juga dalam hidup sederhana yaitu Nabi besar kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula kepada Ummahatul Mukmini, istri-istri beliau yang tercinta, yaitu (1) Khadijah binti Khuwailid,  (2) Saudah binti Zam’ah, (3) ‘Aisyah binti Abi Bakr, (4)  Hafshah binti ‘Umar, (5) Zainab binti Khuzaimah, (6) Zainab binti Jahsy, (7) Ummu Salamah binti Abi Umayyah, (8) Ummu Habibah Ramlah binti Abi Sufyan, (9) Juwairiah binti Al-Harits, (10) Shafiyyah binti Huyay, (11) Maimunah binti Al-Harits, juga kepada para khulafaur rosyidin (Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum) serta yang mengikuti para salaf tadi dengan baik hingga akhir zaman.

Ma’asyirol muslimin rahimani wa rahimakumullah …

Pernah dengar dosa yang dilaknat atau dikutuk?

Setiap yang terkena laknat Allah, maka ia berarti jauh dari rahmat Allah dan berhak mendapatkan siksa, akhirnya binasa. Demikian disebutkan dalam Lisanul ‘Arab, 13: 387-388.

Yang dilaknat bisa jadi perbuatannya adalah kekafiran. Ini jelas jauh dari rahmat Allah dan berhak mendapatkan azab Allah.

Bisa pula yang dilaknat tetap muslim, namun ia melakukan perbuatan yang pantas dapat laknat seperti orang yang minum minuman keras, orang mencaci maki orang tuanya dan semacam itu. Perbuatan yang dilakukan tentu saja termasuk al-kabair (dosa besar), namun tidak menyebabkan ia kekal di neraka.

Ada lima hadits yang kami bawakan pada kesempatan khutbah Jumat kali ini yang menerangkan dosa-dosa yang dilaknat sehingga kita semakin takut berbuat maksiat dan berusaha menghindari dosa-dosa yang nanti disebutkan.

Hadits Pertama

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ

Allah melaknat siapa saja yang melakukan sembelihan (tumbal) pada selain Allah (menyebut nama selain Allah, pen.). Allah melaknat orang yang melindungi pelaku maksiat (dan bid’ah). Allah melaknat orang yang melaknat orang tuanya. Allah melaknat orang yang merubah batas tanah.” (HR. Muslim, no. 1978)

Ada empat hal yang dilaknat dalam hadits pertama ini:

Orang yang menyerahkan tumbal atau sembelihan kepada selain Allah bisa jadi karena ingin memenuhi prasyarat pesugihan dan ingin menjadi kaya atau untuk mengangkat musibah dengan segera lewat istighatsah kepada selain Allah.Melindungi pelaku maksiat dan bid’ah.Orang yang mengutuk orang tuanya, bisa jadi secara langsung, bisa jadi karena dia menjadi sebab orang tuanya dilaknat.Orang yang menzalimi orang lain dengan merubah batas tanah.

Hadits Kedua

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, yang menyetorkan riba, pencatat transaksi riba dan dua orang saksi dalam transaksi riba.” Beliau mengatakan, “Mereka semua sama (dapat dosa, pen.).” (HR. Muslim, no. 1598)

Riba adalah tambahan pada sesuatu yang khusus, misalnya yang dikatakan oleh para ulama dalam utang piutang, “Setiap utang piutang yang di dalamnya terdapat keuntungan maka termasuk riba.”

Yang dilaknat dalam hadits di atas adalah:

Pemakan riba (rentenir)Yang menyetor riba (nasabah)Pencatat riba (sekretaris)Dua orang saksi dalam transaksi riba.

Hadits Ketiga

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”. (HR. Abu Daud no. 3580, Tirmidzi no. 1337, Ibnu Majah no. 2313. Kata Syaikh Al-Albani hadits ini shahih).

Berarti yang dilaknat dalam hadits ketiga adalah orang yang menyuap dan disuap. Namun berbeda kalau yang menyuap ini karena menuntut haknya yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan jalan menyuap, maka ia yang menyuap tidak terkena laknat seperti dalam hadits.

Hadits Keempat

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ وَقَالَ « أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ » . قَالَ فَأَخْرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فُلاَنًا ، وَأَخْرَجَ عُمَرُ فُلاَنًا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pria yang bergaya seperti wanita dan wanita yang bergaya seperti pria.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian.” Ibnu ‘Abbas katakan, “Nabi pernah mengeluarkan orang yang seperti itu. Demikian halnya dengan ‘Umar.” (HR. Bukhari, no. 5886)

Inilah yang dilaknat seperti tingkah laku kaum LGBT saat ini.

Hadits Kelima

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَةً رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَرَجُلٌ سَمِعَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ ثُمَّ لَمْ يُجِبْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat tiga orang: (1) orang yang memimpin kaumnya lantas mereka tidak suka (lantaran penyimpangan agama, bukan masalah dunia, pen.), (2) istri yang di malam hari membuat suaminya membencinya (karena tidak mau taat pada suami, pen.), (3) ada orang yang mendengar ‘hayya ‘alal falaah’ (marilah meraih kebahagiaan) lantas ia tidak memenuhi panggilan berjamaah tersebut.” (HR. Tirmidzi, no. 358. Hadits ini sanadnya benar-benar lemah menurut Syaikh Al-Albani). Walau hadits ini dha’if, namun maknanya shahih.

Demikian khutbah pertama ini.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَمَّا بَعْدُ : فَيَااَ يُّهَاالنَّاسُ !! اِتَّقُوااللهَ تَعَالىَ. وَذَرُوالْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَوَمَابَطَنْ. وَحَافِظُوْاعَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْااَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاًعَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Kamis, 10 Januari 2019

CIRI HAS AGAMA ISLAM ... simak berikutnya

Sebagian dari agama pasti memiliki cirikhas masing-masing lalu apa saja ciri-ciri khas agama Islam?

1. Menyempurnakan Agama yang terdahulu

Sebelum Islam datang, di dunia ini sudah terdapat banyak agama dengan bermacam-macam kitab sucinya. Di Timur Tengah telah ada Kristen dan Yahudi. Di India telaha terdapat Budha dan Hindu. Di Iran telah ada Zoroaster. Di Tiongkok telah ada Kong Hu Cu. Di Jepang ada Sinto. Dimana-mana ada pula agama yang dianut masyarakatnya.

Namun, agama-agama itu mempunyai berbagai keterbatasan. Diantaranya sebagi berikut :

Hanya diperuntukan bagi kaum atau masyarakat tertentu saja. Yahudi dan Nasrani hanya diperuntukan bagi kaum Bani Israil saja, seperti yang disampaikan Isa as dalam Matius 15:24,  Maka jawab Yesus, katanya : tiadalah aku disuruhkan kepada yang lain, hanya kepada segala domba yang sesat dari antara Bani Israil . Begitu pula Sinto hanya tersebar di Jepang saja. Seperti halnya Zoroaster untuk bangsa Iran.

Hukum-hukum agama berbeda-beda. Perbedaan itu terjadi karena memang dari semula tidak sama. Selain itu, ada pula perubahan yang dilakukan oleh para tokoh dan pemuka agama terhadap Kitab Sucinya. Misalnya, Taurat (Perjanjian Lama) dan Injil (Perjanjian Baru), pada saat ini tidak ada lagi yang asli. Kitab-kitab itu telah berubah karena pengaruh pemikiran orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, kitab-kitab tersebut tidak terjamin lagi keaslianya sebagaimana yang diwahyukan oleh Allah.

Nah, pada saat seperti itulah Islam datang untuk menyempurnakan agama-agama yang telah ada, yang memiliki banyak keterbatasan. Islam datang tidak hanya untuk menyempurnakan, tetapi juga memurnikan ajaran agama Samawi sebelumnya yang telah dikotori oleh campur tangan ajaran manusia yang berkedok agama (bercampur dengan kemusyrikan). Hal itu dilakukan agar manusia kembali kepada akidah tauhid (Monotheisme)

2. Agama Fitrah

Fitrah artinya sifat asal, bakat, pembawaan dari asal muasal kejadian manusia dan suci bersih dari dosa.

Islam adalah agama fitrah. Ajaran-ajaran Islam harus dijadikan jalan hidup (Way of Life) oleh umat manusia karena ajaranya sesuai dengan fitrah manusia. Allah SWT berfirman :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah (itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.  (Q.S Ar Ruum : 30).

Fitrah yang terdapat pada manusia bermacam-macam. Di antaranya adalah fitrah beragama, fitrah rasa senang kepada kebersihan dan keindahan, fitrah memiliki kecenderungan untuk meningkat ke arah yang lebih baik, dan fitrah ingin berkenalan dengan orang lain serta hidup bermasyarakat. Islam diturunkan Allah SWT untuk menyalurkan dan membimbing fitrah-fitrah tersebut agar umat manusia senaniasa berjalan di jalan yang lurus (Islam) serta berbahagia hidupnya dunia akhirat. Allah SWT berfirman yang artinya :

 Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagi kamu. (Q.S Al-Baqarah : 208)

3. Pendorong Kemajuan

Abbas Mahmud al Aqqad (1986 : 4) menyatakan bahwa agama yang benar adalah yang baik dan berguna bagi segenap lapisan dan golongan masyarakat sepanjang zaman serta tidak pernah kehilangan keaktualanya. Selain itu, tidak merintangi manusia pemeluknya untuk memperoleh dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peradaban zaman. Ciri-ciri itu hanya dimiliki oleh agama Islam, bukan yang lainya!

Sesungguhnya Islam menghendaki dan memerintahkan setiap muslim untuk menjadi sebaik-baik manusia,  the best  dalam segala bidang. Sebagaimana firman-Nya :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, menyuruh kepada yang ma ruf, dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah... (Q.S Ali Imran : 110)

Dari ayat di atas, jelas bukan, bahwa umat Isla merupakan sebaik-baik manusia. Namun untuk mencapai derajat sebaik-baik manusia harus diupayakan dan diperjuangkan. Mana mungkin orang malas dan tidak berguna bisa menjadi sebaik-baik manusia...?!

Islam tidak melarang manusia menjadi kaya, bahkan menganjurkan untuk menjadi kaya-raya. Asal benar cara memperoleh kekayaanya. Begitu pula dalam hal penggunaan kekayaanya. Dalam penggunaan kekayaanya, Islam menganjurkan manusia untuk memanfaatkanya secara benar dan baik bagi kepentingan diri sendiri serta sesamanya. Islam tidak melarang manusia menjadi pejabat, asal jabatanya itu didapat dengan cara yang benar dan tidak untuk kepentingan diri sendiri. Tetapi kepejabatanya itu diarahkan untuk kemanfaatan kepentingan orang banyak. Islam tidak melarang berkarya, asal karyanya dapat bermanfaat bagi sesama. Islam tidak menghalangi manusia menjadi pandai, bahkan mewajibkanya. sabda Nabi Muhammad SAW :

 Tuntutlah ilmu mulai dari buaian hingga liang lahad.  (H.R Mutafaqun Alaih)

Bahkan Allah menantang manusia, dengan menyatakan dalam firman-Nya, yang artinya :

 Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, (tetapi) kamu tak akan dapat melintasinya melainkan dengan kemampuan (ilmu pengetahuan dan teknologi).  (Q.S Ar Rahman : 33)

Lalu, kenapa sekarang umat Islam begitu tertinggal oleh orang-orang non-Islam, dalam masalah-masalah keduniaan? Siapakah yang menyangkal bahwa manusia pertama yang menginjakan kakinya di bulan berasal dari negara barat dan merupakan orang-orang non-Islam?

Bukanlah ajaran Islam yang salah, namun kita semua ini, para pemeluknya yang mengaku beragama Islam yang salah. Di mana kesalahanya? kesalahanya adalah karena umat Islam mengabaikan dan meninggalkan ajaran Islam. Bahkan tidak merasa bangga dan sering merasa malu menampilkan ke-Islamanya. Bagaimana dengan anda...?

4. Memberikan Pedoman Hidup Bagi Manusia

Islam adalah jalan hidup (Way of Life) yang merupakan sumber sistem nilai yang harus dijadikan pedoman oleh umat manusia. Artinya, Islam merupakan arah, petunjuk, pedoman dan pendorong bagi manusia untuk menghadapi dan memecahkan berbagai masalah hidupnya dengan cara yang benar, yang sesuai dengan fitrah atau kodrat kemanusiaanya sebagai makhluk Allah.

Di dalam Islam, tidak hanya terkandung tata hubungan antara manusia dengan Tuhanya, tetapi juga dengan sesama dan sekitar serta dunianya. Oleh karena itu, semua dimensi kehidupan agama, ilmu pengetahuan, politik, sosial, budaya, ekonomi, militer, termuat dalam ajaran Islam sehingga arah, motivasi, dan tujuan hidup manusia selalu berada dalam upaya mencari keridhaan Allah SWT. Sebab, manusia yang tidak ber-Tuhan hidupnya hampa, kering, sunyi, serta tak jelas arah dan tujuanya.

Dengan demikian, karena agama Islam itu membawa peraturan bagi kepentingan manusia dalam hidupnya, maka manusia yang taat dan mengamalkan serta menghayati ajaran Islam akan membuat hidupnya tertata dan terarah sehingga akan sampailah pada kebahagiaan. Hidupnya akan penuh kebaikan karena ia sendiri menjauhkan dirinya dan mencegah orang lain dari kemungkaran dan selalu berupaya agar dirinya mampu berbuat baik dan mengajak orang lain untuk mengerjakan kebaikan.

Dengan demikian, Islam menganjurkan manusia memiliki sifat kompetitif berlomba dalam kebaikan dan dinamis kehidupanya (lihat Q.S Al Maaidah ayat 48), serta berpandangan jauh ke depan dalam rangka menemukan kebaikan serta memecahkan persoalan secara terus menerus dalam upaya mencapai tuuan hidup, ridho Allah SWT.


Senin, 07 Januari 2019

Sawer panganten

Kuringmah Urang Sunda!

Cageur, Bageur, Bener, Pinter tur Singer Pisan Pisan!

 Tepas ▼

 BERANDA (TEPAS) ▼

Rabu, 05 Desember 2012

Conto Teks Sawer Panganten I

1. Bismillah damel wiwitan
Mugi Gusti nangtayungan
Eulis- Asép nu réndéngan
Mugia kasalametan

2. Salamet nu panganténan
Ulah aya kakirangan
Sing tiasa sasarengan
Sangkan jadi kasenangan

3. Sing senang laki rabina
Nu diwuruk pangpayunna
Nyaéta badé istrina
Masing dugi ka hartina

4. Hartikeun eulis ayeuna
Lebetkeun kana manahna
Manawi aya gunana
Nu dipamrih mangpaatna

5. Mangpaatna lahir batin
Eulis téh masing prihatin
Ayeuna aya nu mingpin
Ka carogé masing tigin

6. Tigin eulis kumawula
Ka raka ulah bahula
Bisi raka meunang bahla
Kudu bisa silih béla

7. Silih béla jeung carogé
Ulah ngan pelesir baé
Mending ogé boga gawé
Ngarah rapih unggal poé

8. Répéh rapih nu saimah
Rumah tangga tumaninah
Tapi lamun loba salah
Laki rabi moal genah

9. Bisi teu genah ku raka
Prak baé wakca balaka
Lamun raka goréng sangka
Buru bawa suka-suka

10. Suka-suka ti ayeuna
Da eulis atos laksana
Ngajodo anu sampurna
Ngahiji salalamina

11. Salamina saréng dulur
Eulis kudu bisa akur
Akuran ka unggal lembur
Sangkan jadi buah catur

12. Mun catur sing seueur bukur
Ulah ngan kalah ka saur
Napsuna ulah takabur
Hirup resep loba batur

13. Sareng batur kudu jujur
Layeut reujeung nu sakasur
Runtut raut salelembur
Nagara gé subur ma’mur

14. Subur ma’mur sauyunan
Mun aya tamu payunan
Tapi ulah timburuan
Boh bilih silih benduan

15. Ngabenduan ka carogé
Ngan ulah paséa baé
Énggal atuh geura hadé
Ambéh geugeut saban poé

16. Saban poé ulah lali
Titik rintih suci ati
Témbongkeun sing béar budi
Ciri nyaah ka salaki

17. Lalaki mun sok nyandung
Omat ulah waka pundung
Komo lamun bari bingung
Keun antep sina ngaberung

18. Ngaberung tong dihalangan
Asal cukup sandang pangan
Sina lilir ku sorangan
Sangkan panggih kasenangan

19. Senangkeun eulis pikiran
Pikiran didadasaran
Tukuh muntang ka Pangéran
Supaya meunang ganjaran

20. Ganjaran ti Maha Suci
Énggal atuh geura tampi
Ayeuna eulis ngahiji
Sakapeurih sakanyeri

21. Sakanyeri jeung salaki
Mun eulis seueur rejeki
Poma ulah sok kumaki
Masing tumut ka salaki

22. Tumutkeun eulis ayeuna
Ayeuna tos laksana
Laksana datang jodona
Haté bangblas lalugina

23. Lugina dunya ahérat
Gusti maparinan rahmat
Kana waktu ulah telat
Disarengan silih hormat

24. Silih hormat ka sasama
Sing nyaah ka ibu rama
Lakonan paréntah agama
Tangtuna hirup sugema

25. Sugema hirup di dunya
Nyaéta kudu tatanya
Rék nanya pék kanu enya
Badanna buru ditanya

26. Tanya baé ku haténa
Tah éta pikeun saksina
Saksi diri pribadina
Nu tara jalir jangjina

27. Mun jangji nu ngajadi
Éta jangji anu pasti
Pasti jodo ti ajali
Pikiran céngéng ka Gusti

28. Gusti mah teu weleh nyaksi
Nyaksi gerentesna ati
Ucap lampahna kasaksi
Satincak-tincakna ngarti

29. Hartikeun masing karaos
Ulah luas-luis léos
Sumawonna poporongos
Pilari jalan nu raos

30. Raoskeun jaga ku eulis
Eulis ulah sok gumeulis
Najan geulis baris ledis
Ninggang mangsa titis tulis

31. Titis tulis bagja diri
Patokan nu ti ajali
Kajeun siga widadari
Da moal beunang dibeuli

32. Dibeuli ku harta banda
Da moal bisa kajaga
Nu tangtu bakal ngaduda
Nyicingan di alam baka

33. Alam baka kalanggengan
Langgeng rasa ka Pangéran
Supaya ulah rayungan
Ngabogaan papacangan

34. Boga rasa kudu ngarti
Tata titi surti arti
Kudu silih beuli ati
Pikiran dadamelan Gusti

35. Gusti Allah nu kawasa
Ngayakeun dunya tiasa
Pepek eusi dunya rosa
Sayagi pikeun manusa

36. Manusia mahluk punjulna
Palinter pangabisana
Ngakalan eusi dunyana
Nu kantun tumarimana

37. Tumarima ka Pangéran
Tumutkeun kana dawuhan
Qur’an hadis tuduh jalan
Ti para Nabi panutan

38. Panutan urang sadaya
Poma ulah rék cangcaya
Sadaya kudu percaya
Ka Gusti Allah nu Mulya

39. Mulyana nu Maha Agung
Sing saha baé ditulung
Ku bumi alam dijungjung
Nyaahna kaliwat langkung

40. Nyaah baé nu Kawasa
Ka masing-masing manusa
Ulah dir gagah perkosa
Bisi urang loba dosa

41. Dosa mah ti pada jalmi
Welas asih ka sasami
Micinta ka lemah cai
Layeut jeung batur sabumi

42. Sing layeut laki rabina
Ulah aya kuciwana
Silih anteur kahayangna
Akur reujeung barayanna

43. Mun akur ka sadayana
Témbongkeun budi basana
Nu bener tingkah polahna
Supaya hirup sampurna

44. Sampurna euis ayeuna
Yap ka dieu pamegetna
Bapa badé ngawurukna
Diregepkeun ku asépna

45. Regepkeun téh ku haténa
Bapa mépélinganana
Tadina asép ngaduda
Ayeuna mah gaduh garwa

46. Sareng garwa kedah layeut
Sing rapet sacara leugeut
Poma ulah pikir heureut
Sangkan silih pikameumeut

47. Mikameumeut sareng bojo
Laksana asép ngajodo
Tapi lamun ngabobodo
Bojo moal mikasono

48. Mun sono asép ka istri
Sing pageuh saperti patri
Campur gaul sareng santri
Kalayan ati nu suci

49. Nu suci pasti beresih
Tara aya nu dipamrih
Ka bojo teu weléh asih
Sagala sareng pamilih

50. Pilih ku asép ayeuna
Nya pék tanya ku haténa
Nu goréng jeung nu hadéna
Sing karasa ku dirina

51. Diri pangasih Gustina
Gusti mah moal nyiksana
Moal badé ngaganjarna
Kumaha waé amalna

52. Amal hadé tangtu genah
Laki rabi tumaninah
Lamun amal anu salah
Jaga baris nyorang susah

53. Susah lamun teu ngarobah
Nu ngajak ngarah ngarinah
Napsu nu mawa sarakah
Pék atuh paké ibadah

54. Mun ibadah anu tangtu
Bagikeun kanu pihatu
Mikeuna tong ragu ragu
Bilih istri janten bendu

55. Bendu istri asép bingung
Ulah waka sok ditundung
Lamun istri terus pundung
Pangmésérkeun geulang kalung

56. Geulang kalung serba saé
Énggal atuh geura anggé
Dianggéna saban poé
Nu kantun pelesir baé

57. Pelesir eulis ka kota
Tah bawa duit sajuta
Mun aya kahayang ménta
Tatapi ulah lahuta

58. Lahuta aya kahayang
Nyariosna ngagorolang
Nu bakal moal kasorang
Pikir anu mawa Bingbang

59. Bingbang bongan sok sulaya
Mikahayang anu teu aya
Ahirna pakia-kia
Ngajauhan ka baraya

60. Baraya lamun ngahiji
Éta nu langkung utami
Hubungan anu sajati
Ngariung sapara wargi

61. Wargi asép sadayana
Sakitu mikadeudeuhna
Barungah dina manahna
Nu janten ibu ramana

62. Ibu rama ngiring dunga
Asép ngagaduhan garwa
Istrina lamun satia
Hiji baé tong ngadua

63. Ngadua gaduh istrina
Moal bérés salamina
Pakucrut rumah tanggana
Mun teu cocog jeung agama

64. Éra atuh ku tatangga
Sapopoé ngan paséa
Ku istri dipikangéwa
Ku tatangga diléléwa

65. Lamun boga harta banda
Sing kuat nahan gogoda
Bisi kagoda ku randa
Pikir heula jero dada

66. Pikir asép sing waspada
Supaya teu ngarasula
Mun keukeuh pikir midua
Akibat jadi paséa

67. Paséa jeung pamajikan
Napsu sétan barangasan
Teu ngajadi kauntungan
Tetep dina karugian

68. Rugi lamun ngumbar napsu
Napsu pangajak nu palsu
Ngaranjing ngajadi asu
Nu tangtu badan kalangsu

69. Kalangsu bongan sorangan
Osok daék ririungan
Mimitina heuheureuyan
Dina tempat pamaénan

70. Maén dadu maén kartu
Éléh meunang tacan tangtu
Mun meunang udud surutu
Mun éléh ngobral sapatu

71. Ngobral barang kawalahan
Harta banda dijualan
Di imah awut-awutan
Lebur ancur bébéakan

72. Béak duit dipikiran
Éléh maén kawalahan
Tapi keukeuh panasaran
Napsu teu beunang ditahan

73. Ditahan henteu katahan
Dipikir terus-terusan
Datang napsu panasbaran
Sétan iblis ngadeukeutan

74. Sétan nu ngajak jarambah
Nu mawa kana sarakah
Dipaké kana awuntah
Disorang napsu nu runcah

75. Rucahna antep-antepan
Teu ngarérét réréncangan
Cicing dina palacuran
Teu inget ka pamajikan

76. Pamajikan teu dirérét
Duit metet dina dompét
Tapi méré kékéréhét
Ku tarik-tarikna pélét

77. Kapélét ku pamakéna
Pabeulit pikiranana
Teu karasa ku dirina
Diumbar waé napsuna

78. Napsuna mangprung ngaberung
Teu aya anu dirarung
Miboga rasa adigung
Tungtungna ripuh jeung bingung

79. Bingung bongan osok salah
Teu bisa nahan amarah
Jangji ka batur sok gaplah
Teu inget kana papatah

80. Papatah ti para sepuh
Ulah boga rasa angkuh
Mun jangji kudu sing tukuh
Ucap lampah masing ampuh

81. Masing ampuh ti ayeuna
Sing bisa mawa hirupna
Jauhkeun napsu goréngna
Deukeutkeun napsu hadéna

82. Deudeuh teuing putra ibu
Omat tong ngalajur napsu
Ulah maén lacur ngadu
Mun bener nyaah ka ibu

83. Nyaah deudeuh mikasono
Ciri pola kanggo conto
Mangka hadé ulah poho
Bojo téh bawa lalajo

84. Lalajo bari pelesir
Tingali sisi basisir
Sugan awas tina pasir
Alam dunya geura taksir

85. Geura taksir pangaturan
Dadamelanna Pangéran
Aya gedong matak héran
Luhur pageuh nanakéran

86. Teu ngaruag teu ngariek
Sakitu eusina uyek
Pirang-pirang nu ngaleyek
Tapi hanteu ngarempeyek

87. Ya Allah anu ngayuga
Ieu alam ngan nyalira
Bumi langit gé tohaga
Eusina mani pohara

88. Eusi dunya warna-warna
Cahaya panon poéna
Sato tatangkalanana
Cawisan keur manusana

89. Manusa maruji sukur
Ka Gusti Allah nu ngatur
Pangantén sing subur mamur
Kalayan hirupna jujur

90. Masing jujur sahaluan
Ayeuna asép duaan
Ulah aya pacéngkadan
Sing bisa silih bélaan

91. Béla pati jiwa raga
Dunya katut ahératna
Ku asép kudu dijaga
Sangkan eulis gumbirana

92. Gumbira nu panganténan
Papatah tamba lumayan
Ku eulis asép lenyepan
Nyawérna téréh wekasan

93. Nyawér téh turun tumurun
Tuturunan ti karuhun
Pamugi ulah dikantun
Sawér turun hatur nuhun

94. Sawér hartina panggeuing
Papatah geura nyararing
Dangding bari ngahariring
Pépéling masing aréling

95. Aréling urang sadaya
Ka Gusti Allah nu Mulya
Ulah aya panca bahya
Sadaya mugi waluya

96. Waluya para wargina
Rawuh para panganténna
Gumuruh rasa batinna
Caang haté ka gustina

97. Gusti abdi muji nuhun
Ngumbara mangtaun-taun
Ku bumi alam dilahun
Nimat kateda kasuhun

98. Duh Gusti nu langkung héman
Mugi sadaya sing iman
Nya netepan kaislaman
Mugi maot mawa iman

99. Bapa nyawér téh parantos
Mung kantun badé wawartos
Ka ondangan nu ngarantos
Mugi sami pada ngartos

100. Pada ngartos sadayana
Nu dicarioskeunana
Lebetkeun kana manahna
Naropong jalan sampurna 

SUNGKEUM SUNDA


Naskah Sungkeman Pernikahan adat sunda



Naskah Sungkeman

Ka dulur-dulur anu sami rawuh, baraya anu sami lenggah, sim kuring sateuacan ngiring jabung kumalaku, lumampah cumarita seja wakca balaka, wiréh sim kuring sanés pujangga anu ahli ngaréka basa, sanés sastrawan anu ahli dina ngaraéh caritaan. Kumargi kita paralun maklum anu kasuhun, hampura anu diteda, boh bilih dina ngadadar ieu acara kirang nyorang kana kakedahannana.Ka para ahli ngukir sya’ir, pujangga ahli sastra mugia ulah haru ulah ganggu, sawios sim kuring neda widi paralun maklum sakedapan hoyong dikoréksi, diropéa, ogé dioméan manawi tiasa nyampurnakeun kana curat-corét sim kuring.

Ngawitan

Bismillahirrohmanirrohim.

Kalayan nyebat Asma Pangéran, Dzat anu Mahawelas tur MahaasihSeja kaula ngawitan mituturan dua pasang manusa anu kiwari parantos ngahiji kalayan widi Gusti Nu Mahasuci ngalangkungan jalan jatukrami.

Dina ngawitan ngambah ngabaladah sagaraning kahirupan, teu pisan-pisan urang samudayana anu sami kersa sumping, kalayan ridlo lillahi ta’ala ngagebregkeun jiad pangdu’a ka dua mempelai. Ngalangkungan du’ana Rasululloh SAW. Mangga urang ‘aos sasarengan :

Bismillah ….

Baarokallohu laka wabaroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khoiir

(Mugia kabarokahan sareng kasinugrahaan Alloh tumetep euntreup, nyanding mipir ngabanding, lamokot geugeut ka hidep duaan, sareng pamudah-mudahan hidep duaan dikumpulkeunana ku Alloh téh sinanding jeung kasaéan, amin).

Mangga ka pasang panganten, geura lumampah nyaketan kana pangkonan ibu rama

A’udzubillahi minasy syaithonirrojim

Wawashshoinal insaana biwaalidaihi hamalathu ummuhu wahnan ‘ala wahniw wafishooluhuu fii ‘aamaini anisykurlii waliwaalidaika ilayyal mashiir (Luqman : 14)

“Jeung Kami geus marentahkeun ka manusa (pikeun ngabakti) ka indung bapana; indungna geus ngakandung manéhna dina kaayaan lemah anu kalangkung-langkung lemahna, jeung indungna ngasuh manéhna salila dua taun. Kudu syukuran ka Kami jeung ka indung bapa manéh, ngan ka Kami wungkul manéh mulang ka asal. (Luqman : 14)

Kasép, Geulis.

Heup eureunkeun lengkah anjeun duaan dipayuneun ibu rama. Teuteup kalawan geugeut pameunteu marantenna. Sawang ku hidep duaan ka alam ka tukang anu jauh narawangan. Pék patepungkeun paneuteup ajeun jeung paneutep indung bapa. Bayangkeun kua hidep yén dina satétés getih anu ngalémpéréh, sahégak nafas anu ngadami dina angen. Pék rarasakeun ku hidep ratugna jajantung, rénghap ranjugna rarasaan. Tamperkeun dina sirah, seuseup ngaliwatan napas lalaunan singreup alon-alon, kalayan rarasakeun yén hidep téh keur nyeuseup kanyaah jeung kahémanna indung bapa.

Prak, mangga ujang-nyai. Kasép – Geulis, geura nyaluuh kana lahunan indung.

Saméméh hidep duaan barang pénta kanu jadi indung, pék haturananan heula tawis rasa tumarima ngalangkungan basa ka anjeuna. Kalayan dimimitian ku keretegna manah. Uningakeun kanu janten ibu, kieu unina : “Mamah, dina danget ieu kalayan syaré’atna disakséni ku kadang wargi anu hadir di dieu, hakékatna disakséni ku Alloh SWT, langkung tipayun abdi seja ngahaturkeun rebu nuhun laksa ketik kabingahan kana kasaéan anu parantos dipaparinkeun ka abdi. Abdi jelas kahutangan ku Mamah, ti kawit abdi di kandung anu ilaharna salami salapan sasih, tangtos kapayahan anu langkung-langkung. Siang kalayan wengi Mamah teu weléh sumujud ka Rabbul ‘Izzati, tumamprak ka Gusti Alloh neneda palay dipaparin putra-putri anu sampurna salamet, waluya sapuratina.

Kasawang ku abdi kasusah Mamah, nalika bureuyeungan, seunggah gulang gasahan. Patuangan nyelekit beuki narikan. Celekit dina parindikan, jeletot dina bobokong, reyang-reying teu betah cicing. Harita basa tengah peuting Mamah humarurung nyalira. Sakawitna moal ngageumpeurkeun balaréa. Sugan jeung sugan kanyeri dina patuangan bakal ngurangan. Nanging sanés ngurangan nyeri anu aya, malihan tambih-tambih nyeri. Harita, Mamah ngajerit maratan langit ngocéak maratan jagat. Ménta tulung, ménta nyalindung.

Mamah parantos béak déngkak nahan kanyeri jeung kapeurih. Luut léét kesang badag, késang leutik burayoan maseuhan sakujur salira. Guyang darah, mandi getih, sakapeung dibarung ku kasusah, sakapeung haté tugenah. Harita Mamah parantos ngaboreuhkeun jiwa raga, nyawa pingaraneunana. Anu namina ngajuru, luyu sareng istilahna. Hartina nyawa Mamah téh aya dina sajuruna deui.

Dina waktu Mamah ngalahirkeun abdi, Mamah bajuang dina tungtung hirup. Tanaga Mamah, engapan Mamah, kesang Mamah, cai soca Mamah, getih Mamah nyurugcug maseuhan bumi pikeun mélaan anu jadi anak.

Nalika gubrag si jabangbayi gumelar ka alam dunya, denghékna sora orok ceurik sataker kebek, ceurik munggaran anu minuhan wewengkon alam. Nya harita pisan basa ninggang kana wanci subuh abdi lahir ka alam dunya. Ti harita Mamah teu bisa kulem anu tibra, teu bisa léha-léha. Ngupahan tur ngabélaan nu jadi anak. Budak gering milu gering, budak rungsing henteu pusing. Mamah milampah sadaya kabutuh nu jadi anak dumasar kana kaikhlasan jeung ngagedurna rasa kanyaah anu taya wates wangenna.

Mamah, mugia dina danget ieu, wanci kiwari abdi ngésto tina lelembutan abdi anu pangjero-jerona, tina mamaras manah anu sadasar-dasarna abdi neda hampura tida samudaya dosa perdosa. Tinangtos dosa abdi anu janten putra moal kaétang seueurna. Abdi yakin sanajan sakumaha benduna, Mamah lautan hampura jembar manah tiasa ngahapunten ka abdi.

Deudeuh teuing kasép, geulis anak Mamah saleresna kasedih Mamah dina danget ieu lain kusabab kapusingna indung kanu jadi anak. Keun sagala kasalahan anu geus dipilampah kuhidep dina waktu anu ka tukang-tukang ku Mamah dihampura. Naning anu ngalantarankeun Mamah sedih danget ieu téh nyaéta kabeurat haté indung kanu jadi anak. Asa kamari hidep ku Mamah disééh, diakod-akod waktu orok, diméménan waktu budak. Harita basa hidep gégag-gégag diajar leumpang, bari sakapeung titotorojol ti kajauhan hidep tékah-tékah bari tuluy ngagabrug kana lahunan Mamah. Bungah amar wata suta haté anu jadi indung, nalika nu jadi anak tumuwuh mekar kalayan sampurna.

Kiwari, ti harita mangsa ngaliwat bari teu karasa. Geuning si kasép anu dihancleung-hacleung ku Mamah, si Geulis anu ditimbang-timbang ku Mamah teu sangka geuning geus sawawa, dewasa, manjing milampah rumah tangga. Nyukcruk galur sunnah Rasul, mapay lacak papagon agama. Samémangna parantos titis tulis ti ajalina, gurat qodar nu Mahakawasa. Hidep kiwari seja ngamimitian ngabaladah sagara rumah tangga. Geura bral miang, bébér layar tarik jangkar ku Mamah didu’akeun mugia sing tinemu jeung kabagjaan dunya katut ahérat.

Mangga kasép, geulis geura ingkah tina lahunan Mamah ngalih kana panggonan Bapa

Prak tumamprak, rep sidakep, sir budi cita rasa. Sagulung-sagalang sukma nu paanggang kiwari ngahiji dina seuseukeut kaasih kolot kanu jadi anak. Ujang, nyai – kasép, geulis. Sok puseurkeun panyawang hidep kana kanyaah nu jadi Bapa ka nujadi anak dina salila ngipayahan, nyumponan kabutuh hirup nu jadi anak. Sakapeung mah Bapa téh mindeng baringung, ditambah bangluh kasusah nalika teu bisa nyumponan kahayang nu jadi anak. Bapak rajeun ngalamun, mikiran tur narékahan kumaha carana sangkan kahayang nu jadi anak bisa kacumponan sapuratina.

Lamun indung disebutna tunggul rahayu, sedengkeun Bapa disebutna tangkal darajat. Kanyaah indung jeung bapa ka nu jadi anak layeut ngahiji ngawujud, ngajéngélék dina rupa anak. Nu matak dina jirim anak bakal pacampur tétésan-titisan indung bapana. Nya kitu deui dina akhlak jeung pamolahna bakal ceplés téés kanu jadi anak.

Bapa, rumaos abdi mindeng musingkeun ka Bapa. Dina danget kiwari clik putih jatining bersih, clak hérang jatining padang, ti luhur sausap rambut ti handap sausap dampal, getih satétéh ambekan sadami, kiwari abdi neda jembar hampura tinu jadi Bapa.

Baeu kasép, geulis. Malati lingsir na ati, angsana ligar ku mangsa. Hamo lingsir dina wanci, moal ligar dina mangsa. Kiwari wanci tur mangsana Bapa dumareuda wakca balaka ka hidep duaan. Sabenerna, gunung karahayuan, pasir kaasih, sagara kanyah Bapa kahidep téh mémang langka kakedal ku lisan, jarang karaba ku carita. Naning sanajan kitu, ngahunyudna kanyaah Bapa ka hidep téh tinangtos langkung-langkung kanyaah. Sabab, sagala rupa anu diusahakeun ku Bapa bélaan ngadua-duakeun huap, ti sruk-sruk tidungdung bélaan poho ka temah wadi, teu aya lian nyaéta mélaan nu jadi anak. Melak kai, ngingu sapi tur sagala cacawisan hirup taya lian nyaéta ngakirangan nu jadi anak.

Keun cuang teundeun kakeuheul anu geus harareubeul, cag cuang tunda kangéwa anu geus tiheula. Cuang ganti ku budi anu sajati, ku wajah anu marahmay. Sok ku Bapa kiwari hidep dihampura, sagala rereged, kaijid, kangéwa, tur kageuleuh Bapa kiwari balungbang timur caang bulan opat welas, jalan gedé sasapuan.

Cag, anaking geura tandang miang makalangan, geura milampah babarengan kalayan diwuwuh ku du’a nu janten sepuh. Dijiad ku panghiap nu jadi Bapa. Montong melang, tong salempang léngkahkeun sampéan bari ngucapkeun niat seja milampah tugasna Pangéran.

Tuh geuning, sagara tanpa tutugan. Sagara tanpa basisir geus ngagupayan ménta dikojayan. Geura bral undur tina pangkonan, geura hontal kasinugrahan. Hayu urang hirup babarengan, Bapa geus nyiapkeun kandaraan juang pikeun ngajugjug lembur pangharepan.

Sok didu’akeun ku Bapa lahir katut batin, mugia hidep duaan tinemu jeung kabagjaan