Kamis, 28 Mei 2020

Tips dan Trik Menjadi Tipe Seorang Pemimpin yang Baik dan Benar

Pemimipin merupakan sebuah posisi yang sangat menggiurkan dan begitu di inginkan oleh banyak orang. Disamping gaji yang diperoleh, menjadi pemimpin dianggap memiliki otoritas penuh terhadap bawahannya.

Akan tetapi untuk menjadi pemimpin yang baik bukan tentang uang atau otoritas, melainkan karakter ketika harus mengayomi orang banyak. Harus terlebih dulu mempraktikkan tips dan trik menjadi tipe seorang pemimpin yang baik dan benar.

Siapapun bisa menjadi pemimpin. Namun perlu di ingat bahwa perjalanan karier mulai dari bawah untuk sampai di puncak struktur kepemimpinan sebuah perusahaan tidak semudah apa yang dibayangkan. Butuh usaha dan kerja keras untuk memiliki kriteria tertentu seorang pemimpin. Pemimpin yang baik adalah hasil dari konsistensi dan proses panjang.

Mengenal Apa Itu Pemimpin?

Definisi Pemimpin berasal dari kata asing leader dan kepemimpinan leadership, Kartono mengatakan bahwa pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakan orang lain melakukan usaha bersama guna mencapai sasaran tertentu.

Sedangkan Kouzes menjelaskan, bahwa pemimpin adalah vionir sebagai orang yang bersedia melangkah kedalam situasi yang tidak diketahui, pemimpin yang mempunya visi yang jelas dapat menjadi penuntun dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin.

Lain halnya dengan Rukmana, yang mendefinisikan pemimpin sebagai orang yang melakukan atau menjalankan kepemimpinan leadership sedangkan pimpinan adalah mencerminkan kedudukan seseorang atau kelompok orang pada hierarki tertentu dalam suatu birkrasi formal maupun informal. contoh pemimpin yang baik ialah Presiden Soekarno dan Hatta. Ia merupakan presiden pertama indonesia dan tokoh proklamator pembebasan Indonesia dari penjajah.

Tips Dan Trik Menjadi Tipe Seorang Pemimpin Yang Baik Dan Benar

Banyak orang yang beranggapan bahwa menjadi seorang pemimpinsangat mudah. Namun pada kenyataannya, itu tidak semudah yang terlihat. Apalagi jika ingin dipandang sebagai pemimpin yang baik dan dicintai bawahannya.

Mungkin indikator pemimpin yang baik sangat subjektif. Sebab masing-masing kepala memiliki sudut pandang yang berbeda.Lalu bagaimana cara bersikap seorang pemimpin yang baik? Berikut tips dan trik menjadi tipe seorang pemimpin yang baik dan benar.

1. Berwawasan Luas

Pertama adalah memiliki wawasan yang luas. Tugas seorang pemimpin sebuah perusahaan sangat besar. Ia harus bertanggung jawab penuh terhadap kelangsungan bisnis yang dikelola juga kesejahteraan para karyawan. Harus benar-benar memahami bidang bisnis yang tengah digeluti. Sehingga seorang pemimpin harus memliki wawasan yang luas, dan terus meningkatkan hal tersebut dengan terus belajar dan tidak mudah merasa puas dengan ilmu baru.

Dengan bekal wawasan yang luas, pemimpin akan mampu mengarahkan bawahannya serta mampu mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai keadaan. Para bawahanpun akan menaruh respek terhadap pemimpinnya, sebab merasa telah dipimpin dengan cara yang baik dan benar.

Baca Juga : Tips Dan Trik Memilih Browser Yang Baik Untuk Akses Website

2. Bijaksana Ketika Menghadapi Masalah

Tips dan trick yang kedua yaitu bijaksana ketika menghadapi masalah.Tipe kepemimpinan seseorang mungkin berbeda-beda,ada yang otokratis, militeristik, atau bahkan kharismatik. Tapi satu hal yang pasti, setiap gaya kepemimpinan akan ad abeberapa orang yang tidak senang. Itu adalah hal yang wajar, karena pemimpin tidak bisa menyenangkan semua bawahannya. Sebaik apapun gaya kepemimpinan seseorang, tentu akan ada yang tidak menyukainya dengan berbagai alasan.

Terutama bagi seorang pemimpin perusahaan besar, yang sudah pasti akan berhadapan dengan banyak orang dengan beragam kepentingan. Diperlukan kebijaksanaan untuk mampu membuat perusahaan tetap dalam keadaan terkendali saat menghadapi permasalahan. Pemimpin akan memperoleh dukungan dengan sikap bijak tersebut.

3. Membangun Komunikasi dan Interaksi yang Menyenangkan

Seorang pemimpin juga perlu membangun interaksi dan komunikasi dengan orang-orang yang di bawahi.Tidak harus setiap saat atau terlalu dekat, sebab menjadi pemimpinmemiliki banyak kesibukan dan tanggung jawab yang harus dilakukan.Hal yang terpenting adalah upaya untuk terusmembangun komunikasi dan interaksi yang menyenangkan saat berada di lingkungan kerja. Tunjukkan sikap ramah misalnya dengan tersenyum atau menyapa karyawan.

Jangan tunjukkan otoritas, perlakuan demikian akan menimbulkan rasa tidak nyaman terhadap bawahan. Hal itu juga menimbulkan kesan terlalu membanggakan jabatan, sehingga hanya dianggap sebagai formalitas saja.Jadilah sosok pemimpin yang bersahabat meskipun dengan level jabatan yang berada di atas mereka.

4. Mau Menerima Masukan

Biasanya tipe pemimpin otokratis maupun militeristik akansulit bahkan tidak mau menerima pendapat, kritik atau saran dari orang lain. Setiap ucapannya tidak boleh dibantah. Salah satu tugas seorang pemimpin adalah memberikan masukan pada bawahannya. Akan tetapi, pemimpin yang baik dan benar juga harus mau mendengarkan dan menerima masukan dari orang lain. Sebab sebanyak apapun hal yang dipelajari, pengetahuan seseorang tetap terbatas.

Dengan mendengarkan pendapat orang lain, memungkinkan seorang pemimpin bisa belajar lebih banyak hal baru yang belum diketahui sebelumnya.Tidak ada yang salah dengan menerima kritik dan saran dari bawahan.

Berikan kesempatan pada siapa saja yang mau menyampaikan aspirasi maupun pendapat yang berbeda. Sebab pemimpin juga membutuhkan cara pandang orang lain untuk melengkapi cara pandangnya dalam memghadapi masalah.

5. Mau Mengakui Kesalahan dan Kekurangan

Tips dan trik menjadi tipe seorang pemimpin yang baik dan benar selanjutnya adalah mau mengakui kesalahan dan kekurangan.Pemimpin harus memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan dan kekurangannya di hadapan bawahannya, yang demikian adalah sosok pemimpin yang rendah hati. Jangan terlalu meninggikan gengsi, sebab menusiawi jika setiap orang memiliki kekurangan dan ada kalanya melakukan kesalahan.

Seorang pemipin tidak harus malu ketika menyadari kekurangan dan mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Kedua hal tersebut justru akan membuat bawahan semakin respek kepada pemimpinnya yang mau berusaha untuk intropeksi dan memperbaiki diri.

Dengan demikian maka, menunjukkan bahwa sebagai pemimpin yang baik harus mau menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sekaligus bisa menjaditeladan pula bagi bawahannya agar meniru sikap yang ditunjukkan pemimpinnya.

Baca Juga : Program Beasiswa IDCloudHost di Telkom University

6. Mau Memberi Apresiasi

Setiap orang membutuhkan rasa dihargai atas sesuatu yang telah susah payah dicapainya, begitu pula dengan karyawan. Menjadi pemimpin yang selalu memberi apresiasi pada bawahannya, tentu akan dicintai dan disegani. Hal tersebut akan meningkatkan loyalitas karyawan kepada pemimpin yangselalu memberi apresiasi atas prestasi yang mereka peroleh.

Jangan segan mengucapkan terimakasih atas kerja keras para bawahan. Kemudian beri mereka pujian dan reward bagi karyawan yang telah memberikan hasil kerja yang memuaskan. Segala bentuk apresiasi yangpemimpin berikan pada bawahannya akan memacu motivasi mereka untuk melakukan peningkatan kinerja.

7. Rasa Empati Terhadap Bawahan

Terakhir adalah memiliki rasa empati. Pemimpin harus memiliki tingkat kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan kerja di sekitarnya. Kondisi para karyawan perlu mendapat perhatian khusus. Rasa empati terhadap masalah atau kesulitan yang tengah dihadapi bawahan merupakan hal penting untuk dilakukan. Mencoba mengerti kondisi bawahan tersebut menunjukkan kecintaan terhadap mereka.

Demikianlah ulasan singkat 7 tips dan trik menjadi tipe seorang pemimpin yang baik dan benar. Meskipun indikatorkebaikan seorang pemimpin sangatlah subjektif. akantetapi dengan tips dan trik di atas setidaknya dapat memberi gambaran tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Menempatkan mereka sebagai manusia yang memiliki lelah dan masalah ketika terus dihadapkan dengan segudang kesibukan. Jangan segan untuk menawarkan bantuan dan berikan support untuk mereka.

Jadilah pemimpin yang baik dan rendah hati. Tidak menggunakan otoritas untuk mengatur bawahan tapi melakukan interasi yang menyenangkan. Sebab memimpin tidak hanya tentang bagaimana cara memberi perintah tetapi juga menerima masukan. Membuka diri terhadap saran dan kritik, mendengar pendapat orang lain.

Bersikap pemberani dengan mengakui kesalahan dan kekurangann di hadapan bawahannya. Sikap demikian akan mengantar seseorang menjadi pemimpin yang dicintai dan disegani karyawan. Pemimpin yang sukses adalah mereka yang tidak hanya memilikisegudang prestasi dan jumlah bawahan yang banyak, akan tetapi bagaimana menjadi seorang yang berkarakter dalam memimpin.

Kesimpulan dan Penutup

Anda pasti sering mendengar arti kata pemimpin. Namun, anda tidak mengerti bahwa definisi pemimpin ini berbeda. Pemimpin berasal dari kata asing leader dan kepemimpinan leadership, Kartono mengatakan bahwa pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki superioritas tertentu, sehingga dia memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk menggerakan orang lain melakukan usaha bersama guna mencapai sasaran tertentu.

Pemimpin yang baik dan benar pasti tau cara mengatur strategi dan kesejahteraan anak buahnya. seperti itulah presiden indonesia yang pertama yaitu Ir. Soekarno – Hatta. Dimasa kepemimpinan mereka, Indonesia berjaya dengan pengelolaan sumberdaya yang melimpah.

Dahulu, jika Sumberdaya alam dan manusia Indonesia saat dijajah dirampas semuanya. Hingga akhirnya pada tahun 1945 Indonesia mampu berdiri sendiri menjadi negara yang berlandaskan Undang – Undang Dasar 1945

Jumat, 22 Mei 2020

Siapkan Hati dan Diri untuk Menyambut Idul Fitri


Tidak terasa, sebentar lagi kita akan merayakan kembali Hari Raya Idul Fitri. Kemenangan melawan hawa nafsu selama sebulan penuh dengan berpuasa akan dirayakan di hari nan fitri. Menjelang Idul Fitri, tradisi mudik mengunjungi keluarga di kampung halaman sudah menjadi tradisi yang rutin dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia. Tapi, tak hanya sekadar mempersiapkan kebutuhan mudik saja lho, Anda dan keluarga juga tentu perlu menyiapkan hati dan diri untuk menyambut hari kemenangan. Tips rumah tangga kali ini akan membagikan hal-hal yang harus disiapkan untuk menyucikan hati dan diri menyambut Idul Fitri.

  1. Membenahi penampilan diri sendiri
    Tips rumah tangga yang pertama dalam mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Idul Fitri adalah memperbaiki penampilan diri atau cara berpakaian. Jika ada rezeki berlebih, tak ada salahnya membeli pakaian baru yang lebih tertutup atau lebih sopan untuk tampil lebih baik sesuai anjuran agama. Namun, hindari perubahan penampilan yang terlalu berlebihan, ya, seperti menggunakan perhiasan yang berlebih, mengecat warna rambut dengan warna yang mencolok, atau menggunakan kerudung yang terkesan glamor dan mewah. 

  2. Membenahi rumah
    Tak hanya diri sendiri yang harus dibenahi, rumah juga harus dibersihkan dan ditata dengan rapi untuk menyambut Lebaran. Kebersihan dan kerapian rumah Anda mencerminkan pribadi diri sendiri. Oleh karena itu, tips rumah tangga kali ini juga menyarankan Anda untuk melakukan pembenahan rumah, seperti membersihkan seluruh ruangan rumah, mengecat ulang dinding jika diperlukan, atau menata ulang ruangan-ruangan tertentu. Hal ini dilakukan terutama jika rumah Anda akan mendapat kunjungan dari sanak keluarga. Dengan kondisi rumah yang apik dan bersih, keluarga dan saudara yang bersilaturahmi ke rumah Anda tentu akan merasa nyaman.

  3. Perbanyak ibadah
    Dalam menyambut Idul Fitri, bersihkanlah hati dengan mendekatkan diri kepada Allah. Alangkah baiknya jika Anda dan keluarga bersama-sama memperbanyak ibadah seperti mengikuti pengajian, dzikir usai salat, dan melakukan kegiatan buka puasa atau sahur on the road dengan saudara kita yang kurang beruntung. 

  4. Belajar memaafkan kesalahan orang lain
    Terkadang, tujuan dan pikiran kita memang tidak sejalan dengan orang lain. Bahkan, sering kali hati Anda akan tersakiti karena perbuatan orang lain. Mungkin orang tersebut tidak menyadari kesalahannya dan tidak meminta maaf kepada Anda. Namun, tak ada salahnya untuk membersihkan hati dengan memaafkan kesalahan orang lain dan tidak menjadi pendendam. Hal ini tidak hanya dilakukan saat menyambut Hari Raya Idul Fitri saja, tapi sebaiknya dilakukan setiap hari. 

  5. Jangan lupa membayar zakat fitrah
    ​Perlu Anda ketahui bahwa zakat menjelang Lebaran berbeda dengan zakat penghasilan yang dikeluarkan setiap bulannya. Di Indonesia, umumnya zakat fitrah berupa beras sebanyak 2,5 kg yang dibagikan saat malam takbiran atau malam menjelang Idul Fitri. Zakat ini dibagikan kepada saudara kita yang kurang beruntung agar mereka bisa turut merasakan kebahagiaan dalam menyambut Lebaran.


Lebaran akan segera tiba dalam waktu dekat. Apakah Anda dan keluarga sudah mempersiapkan hati dan diri untuk menyambutnya? Jika belum, yuk ajak seluruh anggota keluarga untuk mempersiapkannya dari sekarang!

Ustadz Yachya Yusliha

Kamis, 21 Mei 2020

Jangan Salah Maknai Minal Aidin Wal Faizin, Begini Ucapan Idul Fitri yang Benar

Minal aidin wal faidzin menjadi kalimat tahniah atau ucapan selamat yang lazim dituturkan saat Idulfitri. Kalimat ini kerap diucapkan saat saling bermaafan. 


Namun, sebagian orang masih beranggapan bahwa arti minal aidin wal faidzin adalah "mohon maaf lahir dan batin". Arti minal aidin wal faidzin ini jelas menjadi salah kaprah.

Ucapan minal 'aidin wal-faizin ini menurut seorang ulama tidaklah berdasarkan dari generasi para sahabat ataupun para ulama setelahnya (Salafus Salih). Kalimat minal aidin wal faidzin ini mulanya berasal dari seorang penyair pada masa Al-Andalus, yang bernama Shafiyuddin Al-Huli, ketika dia membawakan syair yang konteksnya mengisahkan dendang wanita di hari raya.

Kalimat minal aidin wal faidzin diterjemahkan menjadi "semoga kita semua tergolong orang yang kembali dan berhasil". jadi arti minal aidin wal faidzin yang diucapkan saat Idul fitri adalah doa dan harapan agar kita semua menjadi golongan orang yang kembali ke fitrah atau suci.

Fitrah yang sejati itu mengandung kebaikan, kemuliaan, kejujuran, dan persaudaraan. Bererhasil memiliki makna dalam berpuasa kita berhasil atau mampu menahan hawa nafsu.

“Minal Aidin wal Faizin” lebih menyimpan arti pencapaian seorang mukmin setelah berpuasa penuh dan melawan hawa nafsunya dengan beribadah kepada Tuhannya di bulan Ramadan.

Dilansir dari NU Online, dalam banyak literatur Islam, ternyata ada tradisi yang kerap dilakukan para sahabat ketika merayakan Idul Fitri. Mereka biasa mengucapkan selamat kepada para Muslim yang berhasil menjalankan puasa selama sebulan penuh.

Alhamdulillah nuhun kupatna

 

TATACARA MEMBAYAR PIDJAH

Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (puasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin." (QS. Al-Baqarah: 184)

Ada kalanya, uzur buat seorang muslim berpuasa Ramadhan. Untuk menggantinya, dalam Islam berlaku qadha dan fidyah .

Qadha adalah mengganti puasa dengan puasa; Sementara  fidyah menggantikan puasa dengan memberi makan orang miskin.

Kewajiban puasa di bulan Ramadhan tidak terlaksana, karena dianggap halangan (udzur) yang dialami seorang muslim. Untuk menggantinya, kita mengenal istilah qahda 'dan fidyah.

Kelompok Pertama (Bayar Fidyah atau ditambah Qadha): 
-Perempuan yang hamil dan terhindar dari masalah kesehatan. 
-Orang yang terlambat mengqadha 'puasa sampai datang bulan Ramadhan berikutnya dengan tanpa udzur  (haid, nifas, sakit, bepergian yang  berkepanjangan, dan lain-lain).

Kelompok Kedua (Hanya Bayar Fidyah) 
-Seseorang yang memang tidak sanggup lagi berkuasa karena fisiknya sudah lemah, dan renta (misalnya: Nenek dan Kakek)
-Seseorang yang sakit keras dan tidak bisa lagi mengharapkan kesembuhannya.

Ukuran fidyah adalah satu lumpur (makanan pokok) untuk satu hari. Jika seseorang tidak berpuasa selama 10 hari maka ia harus membayar dengan 10 lumpur. 1 lumpur = 675 gram / mencukupi untuk makan sehari-hari, atau dapat dihitung dengan biaya makan kita satu hari.

Contoh perhitungan:
(Jumlah hari tidak puasa) x (biaya makan sehari) = nominal fidyah yang diperlukan
Misal: 10 x Rp 25.000 = Rp 250.000

Fidyah akan disalurkan untuk masyarakat yang kurang mampu, lansia terlantar dan kurang mampu, serta keluarga pra-sejahtera.

Selasa, 19 Mei 2020

Makna Keterbukaan Dalam Pembangunan Nasional

 Makna Keterbukaan Dalam Pembangunan Nasional

       Dalam pembangunan nasional keterbukaan danjaminan keadilan merupakan sebuah sistem nilai politik atau cara untuk mencapai tujuan politik bangsa Indonesia.

Tujuan politik ini tercantum dalam pembukaan UUD 1945, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Tujuan politik bangsa Indonesia harus dapat dirasakan oleh rakyat Indoneseia. Untuk itu, keterbukaan dan jaminan keadilan perlu dilaksanakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta harus berpedoman pada Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4, dan nilai-nilai yang terdapat dalam sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Untuk kelanjutan dari pembangunan nasional diperlukan Manajemen Nasional. Manajemen Nasional itu pada dasarnya merupakan sebuah sistem yang orientasinya pada penemuan dan pengenalan (identifiasi) faktor strategis secara menyeluruh dan terpadu. Dengan demikian, sistem manajemen nasional dapat menjadi kerangka dasar, landasan, pedoman, dan sarana bagi perkembangan proses pembelajaran (learning process) maupun penyempurnaan fungsi penyelengaraan pemerintahan yang bersifat umum dalam pembangunan nasional.

Keterbukaan dalam pembangunan nasional dewasa ini harus dilaksanakan misalnya bagaimana keterbukaan dalam proses kebijaksanaan (policy implementation) atau keterbukaan dalam penilaian hasil kebijaksanaan nasional. Sebuah sistem harus terdiri dari unsur, struktur, proses, dan fungsi serta lingkungan yang mempengaruhinya. Unsur utama dalam Sistem Manajemen Nasional (SISMENNAS) terdiri dari :
  1. Tatalaksana pemerintahan.
  2. Tata administrasi negara.
  3. Tata politik nasional.
  4. Tata kehidupan masyarakat

Dilihat dari prosesnya berpusat pada satu rangkaian pengambilan keputusan yang berkewenangan berdasarkan hukum yang ada dan jaminan keadilan bagi masyarakat.

a. Fungsi Sistem Manajemen Nasional

       Fungsi Sistem Manajemen Nasional dikaitkan dengan pangaruh, efek atau akibat dari penyelenggaraan kegiatan terpadu dalam rangka penyesuaian (adjusment) dengan lingkungannya dalam memelihara kelangsungan hidup dan mencapai tujuannya.

Hal ini berfungsi pula sebagai “pemasyarakatan Politik” yang berarti bahwa segenap usaha diarahkan kepada penjaminan keadilan dan keterbukaan demi terwujudnya tujuan nasional.

Dalam prosesnya sistem manajemen nasional juga difungsikan untuk pemilihan kepemimpinan yang berprinsip kepemimpinan Pancasila, berkualitas dan terbuka.

Di samping itu, seorang pemimpin harus mampu membuat aturan sesuai hukum (rule making), mampu menerapkan aturan (rule aplication) dan mampu menyelesaikan masalah yang bertentangan dengan jaminan keadilan (rule adjudication).

Selain itu, sistem manajemen nasional harus mengacu kepada prinsip-prinsip keterbukaan dan keadilan sosial yaiut :

  1. Prinsip asa adil dan merata, yang artinya bahwa setiap warga negara dapat menikmati hasil pembangunan sesuai potensinya untuk kepentingan pribadi dan masyarakat, memperoleh apa yang menjadi haknya, memperoleh keadilan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan darma baktinya kepada bangsa dan negara.

  2. Prinsip keserasian, keseimbangan, dan keseimbangan dalam kehidupan, dalam pelaksanaan pembangunan nasional harus ada keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat, materil dan spiritual.

b. Makna Keterbukaan Dan Jaminan Keadilan

     Keterbukaan dan keadilan perlu dibina dan ditegakkan oleh setiap orang secara layak dan benar dalam berbagai kehidupan, baik dalam kehidupan keluarga masyarakat maupun negara dalam berbagai bidang.

Dengan cara menganalisis barbagai kasus yang terjadi pada orang dewasa ini kita dapat memahami dan membuktikan bahwa pelanggaran, penipuan, tidak adanya keterbukaan atau ketidakadilan membawa akibat yang sangat merugikan baik diri sendiri, orang lain, maupun masyarakat sekitar.

Adanya krisis multidimensi, ketimpangan dan kesenjangan sosial, kemiskinan dewasa ini tidak lain disebabkan belum terselenggaranya keterbukaan dan jaminan keadilan bagi seluruh masyarakat. Sistem manajemen nasional juga belum berfungsi sebagamana mestinya.

Senin, 18 Mei 2020

Nihil Zona Hijau, Ridwan Kamil Sarankan Warga Salat Id di Rumah


Selasa, 19 Mei 2020 03:47 WIB
Poster 
Ilustrasi pandemi Corona. (ilustrator: Edi Wahyono)
Bandung - 

Pemprov Jabar merekomendasikan pelaksanaan salat Idul Fitri dilakukan di rumah. Rekomendasi mengacu pada tingkatan level atau zona penyebaran COVID-19 di Jabar.

"Rekomendasi pemerintah provinsi agar Idul Fitri diselenggarakan di rumah, tidak diselenggarakan di (tempat) kerumunan, di tempat umum mengacu pada level kewaspadaan di 27 kota dan kabupaten yang belum ada level hijau," ucap Gubernur Jabar Ridwan Kamil dalam konferensi pers yang disiarkan melalui akun YouTube Humas Jabar, Senin (18/5).

Emil, sapaan Ridwan, mengatakan pelaksanaan salat Idul Fitri bisa dilakukan apabila tingkat desa atau kelurahan bisa membuktikan di daerahnya sudah masuk zona hijau. Untuk keputusan sendiri nantinya diserahkan ke Bupati dan Wali Kota daerah masing-masing.

"Tapi jika nanti level kewaspadaan ada yang hijau di level kelurahan atau desa, kami persilakan wali kota dan bupati mengambil kebijakan proporsional terhadap desa-desa atau kelurahan yang mungkin sudah berwarna hijau," tuturnya.

"Pemerintah provinsi merekomendasikan Idul Fitri diselenggarakan di rumah dan menyerahkan kepada kota kabupaten jika akan mengizinkan jika ada bukti desa dan kelurahan berwarna hijau," kata Emil menambahkan.

ASSALAMU'ALAIKUM ... SIFAT TAQWA

  
Bilamana empat sifat orang bertakwa ini terdapat pada diri seseorang, maka dia dapat dikatakan mencapai derajat muqarrabin atau dekat dengan Allah (foto ilustrasi: Yachya Yusliha)

Mengambil nasihat salah seorang sahabat Rasulullah SAW, yaitu Ali bin Abi Thalib. yang mengatakan bahwa orang yang bertakwa kepada Allah SWT mempunyai empat sifat utama, yakni :

Sifat pertama, Al-Khaufu minal-Jalil, yakni manusia yang merasa takut kepada Allah swt yang mempunyai sifat Maha Agung.

Berapa banyak dari kita yang benar-benar takut kepada Allah? Berapa banyak dari kita yang sadar bahwa Allah tahu semua gerak-gerik kita? bahwasanya ada dua malaikat di kiri kanan kita yang senantiasa mencatat semua perbuatan kita?

Bahkan rasanya pencuri saja lebih takut dilihat CCTV daripada dilihat aparat hukum, bagaimana pula jika dibandingkan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala? Seringkali kita lebih takut ketauan orang lain padahal Allah selalu terjaga dan tidak pernah tidur. Astaghfirullah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar". (Al Mulk 12)

Sifat Kedua, Al-‘Amalu bi At-Tanzil, manusia yang beramal dengan apa yang diwahyukan oleh Allah swt. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Ibrahim 7)

INFORMASI PENTING BUAT KITA SEMUA

089637724281

Jakarta - 

Baterai ponsel cepat habis membuat aktivitas jadi terhambat karena terlalu sering mengisi daya. Masalah daya baterai boros tidak selalu diakibatkan kerusakan baterai, tapi juga pola penggunaan ponsel.

Pola pemakaian dan spesifikasi baterai mempengaruhi daya tahan baterai ponsel. Agar dapat menghemat daya gunakan ponsel dengan bijak, seperti menutup aplikasi yang tidak digunakan dan mengurangi durasi layar aktif.

Melansir berbagai sumber, ada beberapa hal yang tanpa disadari menguras daya baterai ponsel.

1. Kecerahan Layar

Semakin terang cahaya layar, daya baterai yang digunakan kian besar. Agar baterai lebih awet, gunakan kecerahan layar yang rendah, tapi dalam batas nyaman untuk mata. Menggunakan wallpaper berwarna gelap juga membuat baterai bisa bertahan lebih lama, karena meminimalisir cahaya yang ditampilkan.

2. Aplikasi di Background

Meskipun layar mati, beberapa aplikasi tetap memperbarui datanya. Hal ini membuat baterai terkuras, sebab sistem terus bekerja menjalankan aplikasi. Agar tidak terlalu boros baterai, matikan mode aktif di latar belakang pada aplikasi yang tidak terlalu dibutuhkan.

Pada aplikasi yang rutin dibuka seperti aplikasi chatting dan sosial media biarkan berjalan di latar belakang agar tetap menerima notifikasi pesan.

3. GPS Aktif

GPS secara berkala meng-update posisi terkini ponsel, melalui koneksi internet. Menjalankan sistem GPS dan koneksi internet membuat baterai semakin terkuras. Oleh sebab itu, matikan GPS jika tidak dibutuhkan dan matikan setelan GPS pada aplikasi tertentu yang tidak butuh pembaruan lokasi.

4. Koneksi Internet

Ketika sambungan data atau Wi-Fi aktif, ponsel akan menerima sinyal internet dan memperbarui data dari sejumlah aplikasi. Aplikasi pun tetap berjalan di balik layar, sehingga menyedot daya baterai terus menerus.

Untuk menghemat daya, matikan internet atau aktifkan mode pesawat agar ponsel bisa beristirahat sejenak, sehingga daya baterai menjadi awet. Hal itu dapat dilakukan di saat tidak ada aktivitas menggunakan ponsel, seperti ketika tidur malam hari.

Salah satu agar aktivitas menggunakan ponsel bisa berlangsung lama adalah dengan memilih ponsel yang memiliki kapasitas baterai besar seperti OPPO A92. Ponsel ini memiliki baterai berkapasitas 5.000 mAH Battery+ yang tahan lama.

Oppo A92Oppo A92 Foto: Oppo

Di samping itu OPPO A92 memiliki teknologi 18W Fast Charge yang membuat pengisian daya berlangsung semakin cepat.

Di bulan Ramadhan ini, OPPO mengajak konsumen untuk berdonasi melalui setiap pembelian produk dengan program #SejernihDepanMata yang berlangsung dari 1 Mei hingga 31 Mei 2020. Informasi lengkap mengenai cara berdonasi dapat dilihat di sini.

Selasa, 05 Mei 2020

PENGERTIAN IBADAH

Assalamualaikum 

USTADZ YACHYA YUSLIHA

Tgl 13 Romdhon 1441 H

        6 Mei 2020 M.


 Pengertian Ibadah Dalam Islam 


PENGERTIAN IBADAH DALAM ISLAM


A. Definisi Ibadah Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. 


Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu.


 Definisi itu antara lain adalah: 


1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya. 


2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi. 


3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. 


Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap. 


Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. 


Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). 


Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). 


Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). 


Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan. 


Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. 


Allah berfirman: 


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ 


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. 


Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. 


Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat: 56-58] Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. 


Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. 


Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). 


Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah). 


B. Pilar-Pilar Ubudiyyah Yang Benar Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan). 


Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedangkan khauf harus dibarengi dengan raja’. 


Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. 


Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin: 


يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ “


Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” 


[Al-Maa-idah: 54] وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ “Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah.” [Al-Baqarah: 


165] إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ 


“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. 


Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya’: 90] Sebagian Salaf berkata 


[2], “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq 


[3], siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’


[4]. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy


 [5]. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.” C. Syarat Diterimanya Ibadah Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. 


Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam


 : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ

 رَدٌّ. 


“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” 


[6] Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. 


Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:


 a. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil. 


b. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 


Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. 


Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajibnya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan. 


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

: بَلَىٰ

 مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “


(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [Al-Baqarah: 112] Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. 


Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 


Syaikhul Islam mengatakan, “Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari’atkan, tidak dengan bid’ah.” Sebagaimana Allah berfirman: 


فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا 


“Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi: 110] Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah. 


Pada yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. 


Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. 


Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. 


Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagaimana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. 


Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat


.[7] Bila ada orang yang bertanya: “Apa hikmah di balik kedua syarat bagi sahnya ibadah tersebut?” Jawabnya adalah sebagai berikut: 


1. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata.


 Maka, beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya adalah kesyirikan. 


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman


: فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ “


Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [Az-Zumar: 2]


 2. Sesungguhnya Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri’ (memerintah dan melarang). 


Hak Tasyri’ adalah hak Allah semata. Maka, barangsiapa beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya, maka ia telah melibatkan dirinya di dalam Tasyri’. 


3. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita 


[8]. Maka, orang yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan). 


4. Dan sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri dalam ibadah.


 Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam kehidupan manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan pertikaian akan meliputi kehidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan, padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari’at yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. 

Semoga bermanfaat

yachyayusliha@gmail.com