Waspadai Perkara-Perkara yang Merusak Pahala Ibadah
Muslim diharapkan tidak hanya mengerti soal perkara-perkara yang mengantarkan kepada kebaikan dan ibadah kepada Allah SWT, tapi juga tentang pokok-pokok keburukan yang dilarang Islam. Dikhawatirkan seorang Muslim justru tidak sadar telah melakukan perkara-perkara keburukan tersebut. Tidak jarang perkara keburukan justru malah mengikis pahala dari amalan ibadah dan kebaikan yang telah dilakukan.
Muslim pun diharapkan mewaspadai amalan-amalan keburukan yang akhirnya malah merusak amalan pahala yang telah dilakukan. Amalan keburukan ini diibaratkan bagai rayap yang merusak pahala dan amalan kebaikan, seperti layaknya rayap menghancurkan rumah ataupun sebuah bangunan secara perlahan.
Dalam kajian tersebut, materi kajian diisi oleh Ustaz Yachya Yusliha. Dalam paparannya, tersebut menyebutkan, sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk mengetahui pokok-pokok keburukan.
''Jangan kita hanya tahu soal indahnya beribadah, tapi kita juga harus tahu juga tragisnya jalan keburukan. Bukan untuk mengikuti atau meretas jalan di atasnya, melainkan agar dijauhi dan tidak merusak kehidupan serta merusak ibadah kepada Allah SWT,''
Dalam paparannya, ini menyebutkan, ulama besar, Syekh Ibnul Qayyim menjelaskan, kesempurnaan cinta kepada Allah SWT dapat dicapai dengan empat hal, yaitu kita mengerti perkara-perkara yang dicintai Allah SWT, kita mengerti perkara-perkara yang dibenci Allah SWT, kita mengerti siapa yang dicintai Allah SWT dan kita mengerti siapa saja yang dibenci Allah SWT. Dari poin-poin ini, ada dua hal yang disoroti, yaitu kita harus mengerti perkara dan siapa yang dibenci Allah SWT.
Ulama menjelaskan, dua poin itu penting untuk diketahui agar kehidupan ibadah kita kepada Allah SWT tidak rusak.
Hal ini, yang penting diketahui oleh seluruh seorang Muslim. ''Doa yang kita sebut dengan rayap amal itu, dosa itu bisa meghilangkan nilai pahala ibadah kita. Karena itu, kita harus paham perkara-perkara apa yang bisa merusak ibadah kita,
Ulama pernah mengungkapkan, ada beberapa dosa dan perkara yang sifatnya merusak amal dan nilai ibadah yang lain. Dalam kajian kali ini, menjelaskan, perkara yang pertama, yaitu dosa yang begitu lembut yang letaknya di dalam hati. Perkara tersebut adalah soal ketulusan dan niat beribadah kepada Allah. Jadi, orang yang berniat ibadah, tapi niatan ibadah itu dia lakukan hanya bercita-cita untuk dunia saja.
Segala bentuk ibadah, harusnya diniatkan untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT di hari akhir kelak dan untuk urusan akhirat. Bukan justru diniatkan hanya untuk mengejar sekeping kenikmatan dunia. ''Maka, niat yang salah yang bertengger di hati. Ketika ingin mendapatkan dunia, sesungguhnya niat itu bukan hanya merusak ibadah yang dia lakukan, melainka juga merusak pahala ibadah lainnya. Jika niat itu tidak disertai dengan tobat hingga dia meninggal dunia,''
Dalil soal keutamaan niat dalam ibadah ini pun dapat dilihat dalam Surat Hud, ayat ke-15 dan 16. ''Barang siapa menghendaki kenikmatan dunia dan perhiasannya, pasti kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna), dan mereka di dunia tidak akan dirugikan; Itulah orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.''
Dari dua ayat ini, seorang Muslim diharapkan berhati-hati dengan niat dalam hati mereka dalam melakukan ibadah. Bahkan, menurut riwayat yang disampaikan Abdullah bin Mubarok, dua ayat ini merupakan dua ayat di dalam Alquran yang membuat para sahabat langsung berlinang air mata dan menangis pada saat mendengarkannya.
Alhasil kita harus bisa menjaga hati kita agar tidak lalai dalam meniatkan semua ibadah kita hanya kepada Allah SWT. ''Di mana kita terkadang lalai menjaga hati kita. Dosa itu justru dilakukan oleh hati, bukan oleh perbuatan atau lisan kita. Kita sholat, sedekah, dan puasa, akhirnya tidak ada harganya karena kita mengharap dunia di niat kita,''
Lebih lanjut, menjelaskan, semua ibadah yang kita lakukan sebenarnya untuk kehidupan di akhirat bukan untuk di dunia. Jika diniatkan untuk dunia, amalan dan pahala kita akan terhapus di akhirnya. Terlebih, tidak ada jaminan soal kehidupan kita di akhirat kelak. ''Kalau belum dijamin kehidupan di akhirat, tunjukan segala amal kita untuk akhirat. Jangan pernah ditukar kehidupan akhirat kita dengan dunia ketika meniatkan apa yang kita lakukan untuk dunia,''
Walohu...alam trimakasi rekan rekanku sekalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar