Ada pepatah yang menggambarkan “kecuekan” atau “ketidakpedulian” satu pihak terhadap pihak lain dalam konotasi yang meremehkan. Pepatah itu adalah, “Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu”. Yang diremehkan adalah “anjing yang menggonggong”. Dan yang meremehkan adalah “kafilah yang sedang lewat di depan anjing”.
Tetapi, peribahasa itu sudah terbalik. Terbalik menjadi, “Kafilah Menggonggong, Anjing Berlalu.” Supaya agak cantik sedikit, kita ganti menjadi “Kafilah Menjerit, Anjing Berlalu.” Dalam hal ini, “kafilah” yang sekarang diremehkan dan dilecehkan oleh “anjing”.
Khusus untuk tulisan ini, “kafilah” adalah “rakyat” yang sejatinya berposisi kuat dan berdaulat. Rakyat tidak terpengaruh oleh ribut-ribut yang ditunjukkan oleh “anjing”. Atau, kekuatan rakyat tidak terpengaruh oleh gonggongan orang-orang yang berniat buruk. Sekali lagi, rakyat kuat, rakyat berdaulat.
Tapi, itu dulu. Sekarang, “kafilah” atau “rakyat” menjadi tak berdaya. Tak dipedulikan. Kedaulatan “kafilah” dilecehkan. Sebab, “anjing-anjing” telah berubah menjadi kekuatan dahsyat. Yang menjerit (menggonggong) justru “kafilah”, bukan lagi “anjing”.
Syahdan, anjing tidak lagi sepele sebagaimana penafsiran pepatah asli “Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu.” Kedua pihak di dalam peribahasa ini telah berganti posisi. Sekali lagi, hari ini “Kafilah Menjerit, Anjing Berlalu”. Berlalu dengan santai!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar